Ketika ‘Laudato Si’ Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak? - FloresPos Net - Page 2

Ketika ‘Laudato Si’ Diuji di Negeri Sendiri: Di Manakah Hati Gereja Berpijak?

- Jurnalis

Rabu, 18 Juni 2025 - 15:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komitmen meneguhkan kita untuk memulai sesuatu, sekecil apapun itu, sedangkan ujian apakah kita bisa menyelesaikannya dan berdampak bagi banyak orang termasuk alam semesta membutuhkan konsistensi. Karena komitmen tanpa konsistensi tidak lebihnya dengan PHP (pemberian harapan palsu).

Flobamora nusa nan indah yang menjadi daya tarik para wisatawan seakan menjadi bukti bahwa Laudato Si harus tetap digaungkan agar keindahan itu berlanjut hingga lusinan generasi ke depan.

Para stakeholder pariwisata mengingatkan bahwa trend pariwisata global berkelanjutan sedang dimulai dari green tourism sebagaimana dilaporkan oleh lembaga seperti UN World Tourism Organization (UNWTO), lantas kehadiran geothermal malah hanya akan mengganggu kenyamanan para wisatawan dengan aroma blerang dan sejenisnya.

Studi-studi menunjukkan bahwa wisatawan modern semakin mencari destinasi yang menawarkan keaslian ekologis dan budaya, sehingga kehadiran industri ekstraktif seperti geothermal yang berisiko mengganggu lanskap dan kenyamanan justru kontra-produktif.

Baca Juga :  Fokus Bersama Pemerintah Daerah NTT dan Masyarakat Menuntaskan Stunting di NTT

Penerangan untuk pulau Flores yang begitu kecil tidak harus dengan proyek geothermal. Pemanfaatan sinar surya yang melimpah nyaris sepanjang tahun dan angin yang bertiup kencang merupakan hal yang sangat mungkin dioptimalkan.

Ada percakapan di media sosial mengatakan “Ketika kita berjalan di kota-kota dan desa-desa yang indah di Flobamora, seruan pertobatan ekologis itu seakan diuji oleh pemandangan yang kontradiktif: gunungan sampah di sudut pasar, di pinggir jalan, bahkan tak jauh dari halaman gereja. Bau busuk yang mengganggu kenyamanan hidup umat, merusak keindahan lanskap yang hendak kita bela, dan menjadi sarang penyakit,” dimana miang Laudato Si-nya?

Laudato Si’ secara keras mengkritik “budaya sisa (throwaway culture)” di mana kita dengan mudah membuang barang, makanan, dan menciptakan sampah yang tak terkendali. Krisis sampah lokal adalah manifestasi paling nyata dari “budaya sisa” ini.

Baca Juga :  Dampak Positif Pembukaan Kembali Bandara Frans Seda Maumere yang Tutup Akibat Abu Vulkanik Lewotobi Laki-laki

Ensiklik ini juga menekankan pentingnya keindahan (via pulchritudinis) bagi jiwa manusia. Itu sebabnya, lingkungan yang kotor dan kumuh merampas kualitas hidup dan keindahan yang merupakan hak setiap orang, terutama kaum miskin yang tidak punya pilihan tempat tinggal.

Hal ini sejalan dengan temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berulang kali mengaitkan manajemen sampah yang buruk dengan peningkatan risiko penyakit menular dan pernapasan, di mana kaum miskin menjadi korban utamanya.

Perlu diberi pertanyaan kritis tapi bukan menuduh untuk refleksi adalah “Mengapa energi profetik yang begitu besar untuk melawan ancaman geothermal seolah belum tersalurkan secara maksimal untuk memobilisasi umat dalam perang melawan sampah sehari-hari? Apakah jeritan bumi akibat plastik dan limbah domestik kurang nyaring dibandingkan deru mesin bor?”

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 591 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA