Ada lagi yang menarik. Suatu sore, saya duduk santai di turap areal kawasan Pieta atau Mater Dolorosa hingga Kelurahan Larantuka.
Saya tertarik dengan obrolan kecil beberapa orang muda yang juga sedang santai menikmati deburan ombak laut–nongkrong sambil ngopi di turap itu.
Begini obrolan kecil mereka. Turap ini dibangun begitu bagus. Selama ini tidak dimanfaatkan–dibiarkan nganggur. Alangkah baiknya, salah satu sisi di buka untuk pintu masuk parkiran kendaraan. Bisa juga, disediakan kafe-kafe kecil.
Pengunjung atau setiap kendaraan orang yang nongkrong di bibir turap dan kafe-kafe, ya wajib bayar parkiran. Bukan parkir di badan jalan. Seperti sekarang ini.
Kemudian, saya tahu, orang-orang muda itu dari luar Kabupaten Flores Timur. Dari Jakarta. Mereka hanya sebentar. Ada tugas dan pekerjaan di Kota Larantuka. Mereka jeli melihat potensi dan peluang meraup PAD. Baru dari parkiran saja.
Tengok lagi, kawasan Taman Kota Felix Fernandez. Di bagian barat dan bagian timur sejatinya ada parkiran. Lihat sekarang. Apa jadinya?. Sudah penuh bangunan dan lainnya. Tidak bisa parkir.
Alhasil, badan jalan utama jadi tempat parkiran pengunjung taman dan jajanan malam di kawasan Taman Kota Felix Fernandez. Sekaligus, tempat parkir dan bongkar muatan angkutan umum–bus antar kabupaten.
Belum lagi, Dinas Perikanan dan Pertanian serta perkebunan. Ini lumbung PAD. Setiap kendaraan pengangkut hasil ikan dan hasil laut lainnya yang keluar wilayah Flores Timur wajib ditarik retribusi antardaerah di perbatasan.
Termasuk hasil komoditi pertanian. Wajib boarding atau ditarik retribusi setiap kendaraan pengangkut hasil komoditi keluar antardaerah.
Kalau tidak. Sampai akhir tahun anggaran, PAD Flores Timur parkir di angka Rp 30-50 miliar. Apalagi di posisi dua digit ini saja, ngos-ngosan. Menyedihkan!. Tiap tahun berharap dan bergantung sepenuhnya pada alokasi anggaran dari pusat.
Editor : Wall Abulat










