Kantong penerimaan PAD Dinas Perhubungan–sudah pasti-selama ini berasal dari retribusi parkiran, retribusi pelabuhan/jembatan tambahan perahu (JTP) dan retribusi terminal angkutan umum. Itu belum termasuk penerimaan pendapatan operasional kendaraan “Bus Sekolah” yang sudah berubah nama “Transhub”.
Dinas PU, salah satunya sewa alat berat. Dinas Lingkungan Hidup, sudah biasa pula. Penerimaan retribusi sampah dan pengolahan persampahan. Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan Peternakan, salah satunya berasal dari kebun bibit tanaman pertanian dan peternakan.
Dinas Perikanan, salah satunya pengelohan ikan dan hasil laut lainnya. Dinas Kesehatan, penerimaan berasal dari pendapat Puskesmas. Dinas Komunikasi dan Informatika berasal dari RSPD dan mobil koling. Dinas Pariwisata, salah satunya retribusi/karcis masuk obyek-obyek wisata milik pemerintah daerah.
RSUD Larantuka, salah satunya dari retribusi penggunaan fasilitas dan lainnya. Tapi, sekarang, penerimaan PAD dari RSUD Larantuka tidak disetor ke kas daerah.
Karena rumah sakit ini sudah berstatus BLUD: Badan Layanan Umum Daerah. Daerah hanya mencatat besarnya penerimaan PAD. Penerimaan PAD, sepenuhnya dikelola oleh RSUD Larantuka.
Masih. Ada dua sumber atau kantong PAD Flores Timur lagi yang–bisa saja luput dari pantauan dan informasi publik, yakni PDAM dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Selama ini, tidak diumumkan secara terbuka berapa kontribusi PAD untuk daerah ini dari PDAM dan BPR. Hampir setiap tahun anggaran, ada penyertaan modal daerah ke dua perusahaan plat merah milik daerah ini.
Penerimaan PAD ini mengacu sesuai aturan baku. Jadilah. Mencari dan meningkatkan penerimaan PAD seperti berburu di kebun binatang. Itu-itu saja (Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah, dan lain-lain PAD yang sah). Ya itu tadi, sesuai aturan baku atau yang ditetapkan.
Mencari dan meningkatkan penerimaan PAD itu harus seperti berburu di hutan rimba. Harus punya ide-ide brilian. Harus punya ide out of box, di luar dari biasa. Harus inovatif dan harus pula kreatif.
Raup PAD dari semua potensi yang ada di daerah ini. Berkacalah pada Desa Rancah di Kecamatan Rancah.
Editor : Wall Abulat










