Saya coba sedikit ke angkah pasti. Awal September 2024, saya dan beberapa teman bertemu Kepala BKAD, Frederik Ama Bolen terkait target dan penerimaan PAD. Waktu itu, Frederik Ama Bolen menjabat Plt Kepala Bapenda. Dia menjabat menggantikan Tulit Beni yang sudah pensiun.
Dia bilang begini. Target PAD Flores Timur tahun 2024 sebesar Rp 49 miliar. Itu pada APBD Induk 2024 dan ditambahkan pada APBD Perubahan Rp 5 miliar lebih. Total target PAD Flores Timur tahun 2024 sebesar Rp 55 miliar.
Kata Frederik Bolen, sampai September 2024, penerimaan PAD Flores Timur baru mencapai Rp 10 miliar lebih. “Target PAD tahun 2024 sebesar Rp 49.802.639.000. Per 21 Agustus 2024 saat Perubahan Anggaran, realisasi penerimaan PAD kita 20,49 persen atau Rp 10.220.279.384,68.”
Jelas Frederik Bolen. Pada evaluasi APBD Perubahan, Pemda menambah target penerimaan PAD sebesar Rp 5.409.562.000. Penambahan itu diperkirakan dari penerimaan pendapatan BLUD Rumah Sakit dr. Hendrik Fernandez Larantuka.
“Realisasi kita memang masih rendah. Pada evaluasi perubahan anggaran ada tambahan target PAD sebesar Rp 5.409.562.000. Diperkirakan dari BLUD Rumah Sakit Larantuka,” katanya.
Jelas dia lagi. Realisasi penerimaan PAD masih rendah itu, karena terkendala belum ditetapkan 9 peraturan bupati (perbup) dalam tataran pelaksanaan penagihan pajak dan retribusi.
“Baru September ini kita launching penyebaran SPP PBB. Sesuai jadwal mestinya disebar pada Maret. Teman-teman sudah sebarkan SPP ini. Saat evaluasi di provinsi, pendapatan pajak daerah kita dinilai masih rendah,” kata Frederik Bolen.
Penerimaan pasti per September 2024—merujuk Frederik Ama Bolen, PAD Rp 10 miliar lebih. Sisa tiga bulan tutup tahun anggaran 2024. Jadi, perkiraan saya, PAD Kabupaten Flores Timur berada pada kisaran Rp 30-40 miliar. Dua digit.
Penerimaan PAD Flores Timur yang rendah ini tidak hanya pada tahun anggaran 2024. Ini juga terjadi sepanjang 10 tahun belakangan. Apalagi dalam lima tahun terakhir ini. Dua digit saja, Flores Timur ngos-ngosan.
Penerimaan PAD Flores Timur yang cukup besar–kalau tidak keliru, pada zaman Bupati Yoseph Lagadoni Herin atau Yosni Herin. Hampir Rp 100 milyar atau mendekati tiga digit. Setelah itu, Flores Timur babak belur. Betul-betul ngos-ngosan.
Editor : Wall Abulat










