Oleh: Sr. Herdiana Randut, SSpS
SETIAP tahun Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sosial sedunia, waktu tersebut bertepatan dengan hari Minggu sebelum hari raya Pentekosta.
Tradisi ini diawali oleh Paus Paulus VI (1897-1978). Kemudian pada Minggu ke-7 Mei 1967, Hari Komunikasi Sosial Sedunia di tetapkan.
Setelah itu, pada 23 Mei 1971 Paus Paulus VI menerbitkan Ensiklik Communio et Progeressio. Ensiklik ini merupakan salah satu dekrit hasil Konsili Vatikan II tentang upaya komunikasi sosial yang disahkan pada 4 Desember 1963 (HidupKatolik.com).
Setelah Ensiklik ini nyatakan, dewan Kepausan untuk Komsos pun mulai menghelat program tersebut di seluruh dunia.
Melalui perayaan ini, manusia disadarkan untuk mewartakan nilai-nilai Injil melalui kemajuan sarana teknologi dan media komunikasi.
Tema yang ditetapkan setiap tahun berbeda-beda dan relevan dengan kehidupan sosial masyarakat serta relasinya dengan media komunikasi.
Pada tahun ini Paus Fransiskus memilih tema “Kecerdasan Buatan (Artificial Intellegence) dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi”.
Tema ini menarik karena memiliki kaitan dengan evolusi sistem kecerdasan buatan yang mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan banyak orang.
Manusia Modern
Kehidupan manusia tidak terlepas dari proses modernisasi yang memungkinkan dirinya bergerak sesuai perkembangan zaman.
Proses ini ada sebagai upaya menciptakan kondisi masyarakat unggul. Dalam jurnal Modernisasi dan Perubahan Sosial karya Ellya Rosana dikatakan modernisasi adalah bagian dari perubahan social yang direncanakan.
Perubahan ini tergantung pada kebijakan penguasa dan bidang pekerjaan atau kehidupan social yang melatarbelakanginya.
Masyarakat yang mengalami modernisasi adalah manusia modern. Mereka digolongkan pada kelompok masyarakat yang lebih maju pemikirannya, baik dalam bidang tekhnologi maupun ilmu pengetahuan. Umumnya mereka tinggal di wilayah perkotaan.
Namun, tidak semua masyarakat kota dapat disebut modern. Karena tidak semua masyarakat perkotaan memiliki orientasi pada perubahan masa kini seperti gelandangan, pengemis, dan kelompok marjinal lainnya.
Manusia modern memiliki pola kultur yang cendrung mengabaikan adat istiadat lama (Jurnal Tipe-tipe Masyarakat Tradisional dan Modern, Aditya Firdaus Wahyu).
Era digital menjadi alasan paling kuat terhadap segala bentuk perubahan zaman yang terjadi, termasuk manusia modern yang menjadi subjek dasar atas segala bentuk percepatan dunia yang terus bertransformasi dari waktu ke waktu.
Ideologi, mind set, persepsi bahkan setiap perilaku manusia juga beradaptasi dengan zaman. Zaman yang kini selalu disebut berubah, serba canggih, praktis, dan mudah. Teknologi membuat manusia mendapatkan banyak kemudahan.
Bersamaan dengan itu, manusia modern ‘dikontrol’ oleh tekhnologi itu sendiri, gaya bicara, fashion, mobil, dan gaya hidup lainnya seakan-akan dikontrol oleh media social hasil perubahan zaman.
Mereka haus akan hal-hal baru yang bisa saja menjerumuskan mereka sendiri pada kejatuhan. Fungsi kontrol dalam diri menjadi redup karena kehausan tersebut.
Jika tidak meng-update handphone, televisi, laptop, baju dan lain sebagainya, mereka menjadi sedikit ‘gila’, takut kalah bersaing dengan sesama, dan tak mau dianggap bodoh. Hemat saya ini adalah salah satu kelemahan manusia modern.
Kecerdasan Artifisial, Hati Nurani, dan Refleksi
Paus Fransiskus dalam pesan Reflektif Hari Komunikasi Sosial Sedunia, melihat dan membaca kemajuan tekhnologi zaman ini mempermudah banyak orang untuk mendapatkan informasi secara cepat dan up to date.
Pengembangan sistem kecerdasan artifisial memengaruhi dunia informasi. Termasuk memengaruhi aspek-aspek kehidupan bermasyarakat seperti relasi sosial dengan sesama, pendidikan, dan aspek-aspek yang lain.
Misalnya dalam interaksi dengan sesama, manusia menyampaikan pesan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar mudah dimengerti, dicerna, dan direspon dengan baik.
Namun, seringkali bahasa yang diungkapkan sebaliknya. Manusia dewasa ini cendrung lebih percaya pada tekhnologi.
Informasi yang disampaikan pada platfrom-platform digital mampu menarik perhatian pengguna yang membuat mereka percaya sepenuhnya pada konten-konten yang ditampilkan.
Apalagi jika sumber-sumber informasi atau pesan yang disampaikan tidak akurat, tidak kredibel, dan berat sebelah.
Kemudian informasi itu diteruskan dari satu orang ke orang lain, meluas dalam jumlah yang banyak. Secara langsung hal ini mempengaruhi orang lain jika informasi tersebut tidak dicerna dengan baik. Ini menyebabkan manusia menjadi masyarakat yang tidak cerdas dalam komunikasi dan informasi.
Termasuk menanggapi kebaruan tekhnologi yang sedang populer di zaman ini.
Kecerdasan buatan membuat manusia takjub karena melahirkan penemuan-penemuan yang bagus, bersamaan dengan itu kecerdasan buatan membuat manusia bingung terhadap fungsi dan potensinya.
Jika seluruh aspek kehidupan manusia dikuasai oleh kecerdasan buatan, dimana hakikat manusia seutuhnya?
Paus Fransiskus dalam pesannya mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menggantikan hati manusia.
Mengapa kecerdasan buatan tidak bisa mengalahkan hati manusia?
Manusia adalah makhluk berakal budi. Hal ini yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk yang lain.
Akal budi memampukan manusia untuk berpikir terhadap segala sesuatu yang datang dari luar dirinya. Kemudian hal itu dicerna dengan baik menggunakan pikiran.
Namun pikiran tidak bekerja sendiri, dibutuhkan hati untuk menyaring mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap tidak baik.
Hati harus terus dipelihara dengan baik agar tidak jatuh dalam kesalahan-kesalahan duniawi masa kini.
Bagaimana cara memelihara hati?
Refleksi yang terus menerus akan dapat membantu hati untuk menanggapi peristiwa, kejadian, dan hal-hal lain yang ada.
Seperti yang diungkapkan Paus Fransiskus dalam pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia “bentuk refleksi yang baik dimulai dari hati”.
Kebijaksanaan datang dari hati. Jika hati tidak terbiasa dengan refleksi yang mendalam maka manusia menjadi miskin dalam kebijaksanaan dan keliru dalam pemahaman konsep-konsep kehidupan yang baru.
Hati adalah tempat terdalam manusia. Di sana manusia dapat berjumpa dan berbicara dengan Tuhan.
Segala keputusan yang baik lahir dari hati yang bijaksana. Sehingga hati tidak bisa dikalahkan oleh kecerdasan buatan.
Tekhnologi mampu menciptakan aplikasi-aplikasi baru, memposting beragam konten, menyimpan data, berkomunikasi dengan orang lain dari beragam bahasa, menciptakan ilmu pengetahuan baru.
Tetapi tekhnologi tidak bisa dikendalikan dengan hati yang bijaksana. Kecerdasan buatan tidak mampu berefleksi dan mencerna.
Ia hanya mampu menciptakan dan ‘melemparkan’ isi tapi tidak berpikir secara matang.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kecerdasan buatan dapat menjadi ancaman terhadap manusia.
Hemat saya hati yang terus berefleksi akan luput dari ancaman-ancaman kecerdasan buatan. Hanya hati yang bijaksana dapat mengontrol segala sesuatu yang datang dari luar dirinya. *
Penulis, adalah Komsos Kongregasi SSpS Provinsi Flores Barat & Member of Woke Asia Feminist










