Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’ - FloresPos Net

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

SAYA membaca dengan saksama tulisan M. Arif Efendi berjudul “Pindah Gedung Tak Pindah Makna: Ujian Jasmerah di Gedung Rasjidi MH Thamrin” yang dimuat di kronologi.id (27 Oktober 2026).

Saya sangat mengapresiasi bagaimana penulis merajut isu birokrasi dengan kearifan lokal dan kesadaran sejarah. Tulisan ini berhasil mengangkat wacana perpindahan kantor Kemenag dari masalah administratif menjadi refleksi teologis-sosiologis yang mendalam.

Namun, dari kacamata studi antariman, izinkan saya memberikan catatan atas rencana perpindahan gedung ini. Ini tidak berkaitan dengan soal logistik atau efisiensi ruang, melainkan sebuah ancaman nyata terhadap ekosistem kerukunan yang telah dibangun puluhan tahun. Menurut saya, ada empat alasan fundamental mengapa pemisahan fisik ini berisiko tinggi.

Baca Juga :  Menghidupkan Kebijakan Baru Kemendikdasmen: Membangun Generasi Berkarakter di Flores

Pertama, gedung sebagai ‘Ruang Sakral’ dan simbol co-presence. Dalam studi agama dan ruang (religion and space), nilai dan makna sebuah bangunan tidak pernah netral.

Gedung MH Thamrin tidak hanya dipandang sebagai tumpukan beton dan kaca, melainkan telah bertransformasi menjadi ‘kanopi’ (meminjam istilah sosiolog Peter Berger) bagi kerukunan umat beragama di Indonesia.

Baca Juga :  Ternyata Kletus Gabhe Pernah Berbisik ke Pemain Persena Nagekeo Sesaat Menjelang Laga Final

Fakta bahwa enam direktorat jenderal dari enam agama berbagi satu atap adalah manifestasi fisik paling konkret dari Pasal 29 UUD 1945.

Kehadiran bersama (co-presence) setiap hari menciptakan ekosistem toleransi yang hidup. Kekhawatiran bahwa “jika pembuluh dipisah, airnya tak lagi bulat” sangat beralasan. Dalam dialog antariman, kedekatan fisik (propinquity) adalah katalisator utama yang memupuk empati antarkelompok secara alami.

Berita Terkait

Amatus Ergo Sum (Saya Dikasihi Maka Saya Ada)
Kisah Ama Rian, dari Sabu Merantau ke Ende, Jualan Bawang dan Raih Sarjana di STPM
Jempolmu, Ikrarmu: Sumpah Pemuda di Era Hoaks dan AI
Mahasiswa Hingga Dosen Majukan Ekonomi Manggarai–Prestasi Gemilang STIE Karya Ruteng
Sarjana Berdampak Berkarya untuk Bangsa: Membangun Ekonomi Menumbuhkan Harapan
Rosario di Ritapiret: Menguji Kesalehan dari Cara Kita Memperlakukan Sesama
Melangkah dengan llmu, Berkarya untuk Agromaritim Berkelanjutan: FTP3 Universitas Nusa Nipa Lepas Lulusan
Napak Tilas 37 Tahun Sri Paus John Paul II ke Flores: Seminari Tinggi Ritapiret Jadi Vatikan Semalam, Gelora Samador Maumere Locus Urbi et Orbi
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:38 WITA

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:48 WITA

Amatus Ergo Sum (Saya Dikasihi Maka Saya Ada)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:47 WITA

Kisah Ama Rian, dari Sabu Merantau ke Ende, Jualan Bawang dan Raih Sarjana di STPM

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:51 WITA

Jempolmu, Ikrarmu: Sumpah Pemuda di Era Hoaks dan AI

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:49 WITA

Mahasiswa Hingga Dosen Majukan Ekonomi Manggarai–Prestasi Gemilang STIE Karya Ruteng

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA