Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’ - FloresPos Net - Page 3

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jika pemisahan fisik ini tetap dipaksakan dengan dalih reformasi birokrasi, Kementerian Agama tidak bisa lagi bersikap pasif. Institusi ini akan terbebani kewajiban ekstra yang berat untuk menciptakan ‘dermaga-dermaga buatan’ sebagai upaya ‘damage control’, yang jauh lebih sulit dipertahankan daripada kedekatan organik yang sudah ada selama ini. Setidaknya, tiga hal ini wajib dilakukan.

Pertama, Kebijakan Silang (Cross-cutting Policies) yang Mengikat, Bukan Sukarela. Program kerja tidak boleh lagi bersifat sektoral atau eksklusif. Harus ada mekanisme birokrasi wajib yang memaksa kolaborasi lintas direktorat agama untuk mencegah lahirnya “silo-silo” keagamaan yang terisolasi dan saling asing satu sama lain.

Kedua, Demokratisasi Ruang Perjumpaan. Forum dialog tidak boleh terjebak pada elisme birokrasi (hanya untuk tingkat pimpinan atau eselon tinggi). Harus dirancang ruang perjumpaan terstruktur dan rutin bagi staf tingkat bawah hingga menengah. Ini penting untuk menjaga denyut ‘dialog kehidupan’ yang selama ini tumbuh secara alami di kantin, ruang parkir, atau lorong gedung lama.

Baca Juga :  Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai

Ketiga, Transformasi Digital sebagai Jembatan Darurat. Karena kedekatan fisik (propinquity) hilang, ruang virtual harus dioptimalkan secara cerdas untuk memfasilitasi kolaborasi. Namun, kita harus jujur mengakui bahwa interaksi digital tidak akan pernah sepenuhnya mampu menggantikan kehangatan, kepercayaan, dan empati yang lahir dari kehadiran fisik (co-presence) sehari-hari.

Benar bahwa syair Hamzah Fansuri yang dikutip M. Arif Efendi dalam tulisannya tersebut mengingatkan kita: “Tujuan tetap dituju meski dermaga berganti-ganti”. Namun, pergantian dermaga yang tidak terukur biayanya terhadap kohesi sosial adalah sebuah pertaruhan yang berbahaya. Sang nakhoda (Kemenag) mungkin masih memegang kompas kerukunan, tetapi badai fragmentasi akan jauh lebih mudah menerpa ketika awak kapal (pegawai lintas agama) tidak lagi berada di geladak yang sama.

Baca Juga :  Out of Touch dan Politik yang Membumi

Membuktikan bahwa nilai persaudaraan sebangsa dan setanah air lebih kuat daripada sekat-sekat beton, seharusnya tidak dimulai dengan tindakan gegabah membongkar sekat yang selama ini telah sukses menyatukan kita.

Jika ‘Jasmerah’ benar-benar dimaknai sebagai menjaga sejarah, maka Kementerian Agama harus memiliki keberanian moral untuk meninjau ulang langkah mundur ini. Biarkan ‘tungku’ itu tetap menyala di perapian aslinya.

Berita Terkait

Amatus Ergo Sum (Saya Dikasihi Maka Saya Ada)
Kisah Ama Rian, dari Sabu Merantau ke Ende, Jualan Bawang dan Raih Sarjana di STPM
Jempolmu, Ikrarmu: Sumpah Pemuda di Era Hoaks dan AI
Mahasiswa Hingga Dosen Majukan Ekonomi Manggarai–Prestasi Gemilang STIE Karya Ruteng
Sarjana Berdampak Berkarya untuk Bangsa: Membangun Ekonomi Menumbuhkan Harapan
Rosario di Ritapiret: Menguji Kesalehan dari Cara Kita Memperlakukan Sesama
Melangkah dengan llmu, Berkarya untuk Agromaritim Berkelanjutan: FTP3 Universitas Nusa Nipa Lepas Lulusan
Napak Tilas 37 Tahun Sri Paus John Paul II ke Flores: Seminari Tinggi Ritapiret Jadi Vatikan Semalam, Gelora Samador Maumere Locus Urbi et Orbi
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:38 WITA

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:48 WITA

Amatus Ergo Sum (Saya Dikasihi Maka Saya Ada)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:47 WITA

Kisah Ama Rian, dari Sabu Merantau ke Ende, Jualan Bawang dan Raih Sarjana di STPM

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:51 WITA

Jempolmu, Ikrarmu: Sumpah Pemuda di Era Hoaks dan AI

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:49 WITA

Mahasiswa Hingga Dosen Majukan Ekonomi Manggarai–Prestasi Gemilang STIE Karya Ruteng

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA