Mengapa? Karena memaksa api kerukunan tetap hidup di tengah badai fragmentasi yang kita ciptakan sendiri, bukanlah sebuah kebijaksanaan, melainkan kesombongan institusional yang mempertaruhkan nyawa moderasi beragama di Indonesia.*
Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende









