Out of Touch dan Politik yang Membumi - FloresPos Net

Out of Touch dan Politik yang Membumi

- Jurnalis

Kamis, 4 September 2025 - 13:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI TENGAH riuh demonstrasi yang kerap mewarnai jalan-jalan Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, tema tentang ketimpangan tak sepi dari ingatan. Tema ini lebih menyasar pada soal rasa, bukan sekadar soal angka statistik.

Rasa ketidakadilan, rasa ditinggalkan, dan rasa marah terhadap elit yang dianggap hidup dalam gelembung kemewahan, jauh dari realitas rakyat biasa. Juga bukan sekadar kecemburuan sosial.

Bisa jadi, ia lebih mengarah kepada ekspresi dari luka struktural yang makin menganga. Karenanya, ketika muncul suara-suara dari rakyat, mereka tidak hanya menuntut perubahan kebijakan, tetapi juga menuntut diagnosis atas luka-lukanya. Lebih tepatnya, pengakuan atas martabat dan penderitaan mereka yang selama ini terabaikan.

Ketika rakyat berjuang dengan harga sembako yang melonjak, akses pendidikan yang timpang, dan layanan kesehatan yang terbatas, berita tentang fasilitas mewah dan uang komunikasi pejabat terasa seperti tamparan.

Baca Juga :  Hilangnya Modal Simbolik (catatan atas kehilangan dokumen kendaraan dinas di Flotim)

Tunjangan rumah dinas, kendaraan, perjalanan dinas, atau bahkan honorarium rapat, semuanya mengalir deras ke kantong mereka yang sudah berada di puncak piramida sosial. Boleh dibilang, semua yang terus meningkat di tengah kesulitan ekonomi rakyat menjadi simbol ketidakpekaan yang menyakitkan.

Secara administratif, mungkin tidak ada pelanggaran. Namun secara moral dan sosial, muncul pertanyaan besar: apakah para pejabat benar-benar memahami denyut kehidupan rakyat yang mereka wakili? Ketika seorang guru honorer harus bertahan dengan gaji di bawah UMR, dan petani menanggung rugi karena harga panen jatuh, apakah memungkinkan jika disebut ‘sebuah kebaikan’ kalau pejabat bisa menerima tunjangan puluhan juta?

Baca Juga :  Ode untuk Flamingo yang Sedang Memudar (Menilik Psikologi di Balik "Pudarnya" Identitas Ibu)

Kita mungkin sepakat kalau pejabat ‘mesti dapat bagian’ dari kerja beratnya. Namun, apakah itu sungguh menjadi sesuatu yang arif-bijak di tengah keadaan bangsa dan negara yang diwarnai oleh ‘efisiensi’?

Di tengah situasi model ini, kita mungkin bisa sepakat kalau dibilang bahwa demonstrasi yang terjadi bukan sekadar aksi jalanan, melainkan bahasa politik rakyat yang tak punya akses ke ruang kekuasaan.

Ketika mahasiswa, buruh, dan masyarakat turun ke jalan, mereka membawa narasi yang sering kali diabaikan. Bahwasanya, negara ini sedang mengalami krisis kepercayaan.

Ketidakpekaan pejabat terhadap realitas sosial menciptakan jurang yang bukan hanya ekonomi, tetapi juga emosional dan simbolik. Kecemburuan sosial yang muncul bukanlah bentuk iri hati semata, tetapi respons terhadap sistem yang dianggap tidak adil.

Berita Terkait

Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Berita ini 94 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:50 WITA

Merdeka di Tanah Bergetar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:50 WITA

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:33 WITA

Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Berita Terbaru

Suasana Apel Bendera HUT Kemerdekaan RI ke-81, Senin (17/8/2026) di RT 15 Kelurahan Sarotari Tengah, Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, NTT. Foto: Istimewa

Nusa Bunga

Merdeka di Tanah Bergetar

Senin, 17 Agu 2026 - 10:50 WITA