Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai - FloresPos Net

Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai

- Jurnalis

Minggu, 21 Desember 2025 - 13:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net- Jarum jam mendekati pukul 19.00 Wita, Minggu (7/9/2025). Satu per satu warga Kampung Wairbou, Desa Watuomok dan Dusun Wailoke, Desa Baokremot, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendatangi kebun adat.

Lokasinya persis sebelah selatan Kali Nangagete. “Malam ini kita akan melaksanakan ritual adat Teme Pelang, merendam padi hasil panen di kebun adat,” sebut Josephus Polikarpus, warga Wairbou, Desa Watuomok.

Hendrikus Hiong, Ketua Adat Suku Soge membuat ritual adat memberi makan kepada Nian Tana Lera Wulan (pencipta langit dan bumi) serta roh atau arwah leluhur (Nitu Maten).

Sesajen berupa sirih pinang, telur ayam, tembakau (rokok) dan Tuak (arak) diletakan di bawah kolong pondok bambu (rumah panggung) di tengah kebun.

Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai. (foto: ebed de Rosary)

Sebelum merendam padi, kembali diletakan sesajen dari telur ayam, beras, sirih pinang dan Moke (arak) kertas Patan berwarna cokelat yang diibaratkan seperti Kitab Suci, catatan dari arwah leluhur yang sudah meninggal.

“Sesajen diletakan di atas batu ceper seraya memanjatkan permohonan agar ritual adat berlangsung dengan lancar dan sesuai,” sebut Hiong.

Baca Juga :  Ketika Provinsial SSpS FBT dan Ketua TRUK Merenda Perjuangan Kemanusiaan Suster Eustochia, SSpS di Bawah Pohon Kersen

Setelah memberi sesajen, Tada (anyaman dari daun lontar) serta sebatang kayu (Ai Gau) diletakan di dinding di atas bale-bale tempat meletakan ember berisi rendaman padi.

Padi diambil dari lumbung, dimasukan ke dalam ember bak yang diisi air hingga hampir penuh. Lima ember bak berukuran besar dipenuhi rendaman padi.

“Ada 2 jenis Pelang yakni Pelang Olung atau Pelang biasa dan Pelang Ramut atau Pelang adat sebagai penghargaan kepada arwah orang yang meninggal,” ucap Hiong.

Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai. (foto: ebed de rosary)

Setelah Pelang direndam, di bagian atasnya diletakan daun pepaya.Di atasnya ditaruh Lilek (piring untuk arwah), anyaman dari daun lontar berbentuk kerucut. Pelang (padi yang direndam) diletakan di atas Lilek.

“Pelang dan Tada dibuat untuk penguatan atau perlindungan supaya padi yang direndam jangan berkurang atau hilang,” ungkapnya.

Selama semalaman direndam Pelang harus dijaga. Seorang perempuan dewasa dipercayakan untuk membolak balik rendaman Pelang sebanyak 3-4 kali hingga merata agar saat digoreng atau disangrai hasilnya bagus.

Pagi saat mentari baru menyinari bumi, satu per satu warga dari Desa Watuomok dan Desa Udek Duen mulai mendatangi kebun adat.

Baca Juga :  Pengurus OSIS SMKS Santo Gabriel Maumere Gelar LKTD Selama 4 Hari

Padi yang direndam di ember bak pun mulai ditiriskan airnya. Tampak kaum lelaki dan perempuan membuat tungku dari batu. Kayu-kayu api pun dinyalakan. Di atas tungku diletakan tembikar dari tanah liat.

Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai. (foto: ebed de rosary)

“Padi akan disangrai atau digoreng di tembikar atau wajan lalu diambil dan ditumbuk di lesung hingga menjadi Pelang,” sebut Maria Wiliborda, warga Wairbou.

Pelang-pelang ini kata Maria, nantinya akan dibagikan kepada setiap orang yang hadir bersama potongan daging kurban. Pelang ditumbuk di lesung menggunakan alu oleh para lelaki dan perempuan.

Pelaksanaan ritual adat Teme Pelang (merendam padi) merupakan rangkaian ritual adat etnis Tana Ai di kebun adat. Etnis Tana Ai mengenal 2 jenis kebun yakni kebun biasa dan kebun adat.Untuk kebun adat,semua tahapan menggunakan ritual adat.

Teme Pelang, Ritual di Kebun Adat Etnis Tana Ai. (foto: ebed de rosary)

Ritus dimulai dari membuka kebun, mendoakan benih padi, menanam, Segang (pendinginan padi yang hendak berbulir), Ekak Watar (makan jagung muda), Ekak Nalu Wo (makan padi hasil panen).

Ritual dilanjutkan dengan Pati Ea yang terdiri atas Teme Pelang (merendam padi) menggoreng dan menumbuk padi menjadi Pelang, Wadong (menginjak padi), Pati (menyembelih hewan kurban) dan ditutup Tie Wa (membuka pintu bagi arwah orang meninggal). *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)
LNBM Berkomitmen Terus Nyalakan Lentera Riset dan Pemberdayaan ke  Seantero Indonesia
Konsisten Selamatkan Satwa Komodo dan Habitatnya, Warga Pota Matim Raih Kalpataru dan Aneka Penghargaan
Janji Allah dan Keteguhan Hati, Pesan Ramadan dari Mimbar Subuh Nurul Iman Waiwerang
Babak Baru di Ujung Dermaga
Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM)
Bang Nik: Sosok Dosen, Peneliti, Penulis Buku dan Pernah Menimba Ilmu di Israel
Puncak Perjalanan Akademik (sisipan pesan dalam momen Penilaian Pembelajaran Akhir Mahasiswa Stipar Ende)
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:32 WITA

Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)

Jumat, 6 Maret 2026 - 09:51 WITA

LNBM Berkomitmen Terus Nyalakan Lentera Riset dan Pemberdayaan ke  Seantero Indonesia

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:03 WITA

Konsisten Selamatkan Satwa Komodo dan Habitatnya, Warga Pota Matim Raih Kalpataru dan Aneka Penghargaan

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:46 WITA

Janji Allah dan Keteguhan Hati, Pesan Ramadan dari Mimbar Subuh Nurul Iman Waiwerang

Senin, 16 Februari 2026 - 21:22 WITA

Babak Baru di Ujung Dermaga

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Junirius Pimpin Gamanusratim IPB

Selasa, 17 Mar 2026 - 10:32 WITA