Oleh: Arnoldus Dhae, S.Fil.
EVENT bergengsi ETMC tahun 2025 telah usai. PSN Ngada akhirnya membawa pulang trofi ke Kota Dingin Bajawa.
Keesokan harinya, yakni Sabtu tanggal 6 Desember, sekitar pukul 10.00 WITA, bertempat di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, secara tidak sengaja, saya bertemu dengan teman dekat Kletus Gabhe, pelatih PSN Ngada.
Namanya Horacio Canto, yang sehari hari biasa dipanggil Chris. Ketika bertemu saya, dia langsung beri salam.
“Selamat ya, PSN Ngada juara ETMC. Pelatihnya teman saya. Saya ikut membantu Kletus Gabhe saat dia menulis skripsi tentang “Tendangan Bola Melengkung” dulu waktu kuliah di Singaraja Buleleng,” ujarnya semangat.
Chris mengira saya ini orang Ngada. Dia belum tahu kalau saya ini orang Nagekeo. Dia belum tahu kalau saya secara administratif di Kabupaten Nagekeo. Namun kalau mau jujur sebagian besar hidup saya ada di Kota Dingin Bajawa.
Kepada saya, Chris bercerita banyak soal Kletus Gabhe sejak kuliah di Undiksha Singaraja, ibukota Negara Sunda Kecil dalam sejarah Indonesia.
Kletus Gabhe di jurusan Pendidikan Olah Raga saat kuliah. Bahkan skripsinya Kletus Gabhe itu soal Tendangan Bola Melengkung. Sungguh luar biasa.
Bahkan, sejak masih menjadi mahasiswa, Kletus Gabhe sudah memperoleh sertifikat wasit dari PSSI melalui Komisi Wasit yang disounding oleh Jenderal Doni Monardo yang kala itu masih berpangkat bintang 2. Ini mengagumkan. Seorang mahasiswa olahraga sudah mendapatkan sertifikat wasit.
Selain itu Kletus Gabhe juga aktif di berbagai klub dan sekolah sepak bola di Bali. Usai kuliah dengan lulusan terbaik, Kletus Gabhe pulang ke Bajawa. Dia mengajar di sebuah SMA di Ngada.
Sekitar tahun 2002 atau 2003, Kletus Gabhe pernah kembali ke Bali ikut seleksi menjadi pemain Perseden (Persatuan Sepakbola Denpasar) sebuah klub papan atas Indonesia.
Usai seleksi, namun karena lulus sebagai ASN, Kletus Gabhe pulang ke Bajawa dan bekerja sebagai ASN. Chris mengaku walau tinggal di Bajawa, komunikasi mereka tetap berjalan hingga saat ini.
Di hadapan Chris saya hanya manggut-manggut. Bukan type saya untuk mudah percaya dengan siapa saja. Dalam hati saya ingin mencoba Chris, benarkah dia teman dekat dengan Kletus Gabhe.
Saya meminta dia untuk mencoba telpon Kletus Gabhe di hadapan saya. Dan memang benar adanya. Saat ditelepon Chris, Kletus Gabhe ternyata langsung respon dan angkat telp Chris. Saya melihat sendiri mereka sangat akrab.
Selain ucapan selamat, mereka juga obrolin hal-hal pribadi yang tidak bisa sampaikan disini. Kemudian Chris menjelaskan ke Kletus Gabhe soal keberadaan saya di hadapannya.
“Ini ada orang Bajawa yang mau bicara,” ujar Chris sambil menyerahkan handphone ke saya. Saya akhirnya menerima handphone dari Chris dan langsung memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Bajawa.
Kami berbicara lama walau hanya melalui telpon. Sebagai orang Nagekeo, saya tetap memberikan ucapan selamat kepada PSN Ngada yang di bawah tangan dingin Kletus Gabhe berhasil meraih juara dan membawa pulang trofi ETMC.
Saya jujur sampaikan bahwa saya dari Nagekeo, dari Mauponggo. Tentu saja menggunakan bahasa Bajawa. Kletus Gabhe sangat luar biasa merespon dengan sangat positif. Kletus Gabhe menyampaikan terima kasih atas ucapan selamat dari saya.
Dia tetap menyampaikan bahwa anak-anak Persena Nagekeo tampil dengan baik saat laga final melawan PSN. Dia juga mengaku kenal banyak anak-anak Persena termasuk pelatihnya.
Dan yang paling menegangkan ketika Kletus Gabhe mengaku bahwa dia sempat berbisik kepada beberapa pemain Persena Nagekeo yang datang memeluknya hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai.
“Waktu kami bersalaman, saya berbisik kepada mereka, anak-anak Persena Nagekeo. Saya bilang jangan menyuruh PSN mengalah demi adiknya. Silahkan main dengan cantik, pertaruhkan skill bola di lapangan. Hiburlah penonton dari Ngada dan Nagekeo ini. Kalau Persena Nagekeo menang saya juga ikut senang. Karena kamu juga anak-anak saya,” ujar Kletus Gabhe dari seberang.
Ucapan Kletus Gabhe membuat saya hampir menitikkan air mata. Saya terdiam membisu, tidak tahu harus menjawab apa.
Pelatih PSN yang satu ini jiwa sangat besar. Hatinya merangkul semua anak-anaknya yang berbakat bola. Tidak membedakan apakah itu PSN maupun Persena.
Dia ingin anak-anak baik yang di Nagekeo maupun di Ngada bisa berlaga di event yang lebih besar. Soal juara di ETMC tahun ini hanya moment bersejarah bagi kedua kabupaten. Terima kasih Kletus Gabhe atas jiwa besarmu. *
Penulis adalah Jurnalis Media Indonesia, tinggal di Denpasar










