Oleh: Paskalis Semaun, SVD
TULISAN Walburgus Abulat tentang solidaritas kemanusiaan, gempa Flores, jurnalisme terlibat, dan pers sebagai pilar keempat demokrasi mengajak kita melihat kembali apa sebenarnya arti pekerjaan seorang wartawan.
Di tengah dunia media yang bergerak sangat cepat, pertanyaan yang diajukan Wal terasa penting: apakah jurnalisme cukup hanya memberitakan apa yang terjadi, atau harus hadir lebih jauh dalam kehidupan masyarakat?
Bagi Wal, jawabannya jelas. Jurnalisme tidak cukup hanya menjadi pekerjaan untuk menyampaikan informasi. Jurnalisme harus memiliki hubungan dengan kehidupan nyata, terutama dengan masyarakat yang mengalami langsung sebuah persoalan.
Ia menyebutnya sebagai jurnalisme terlibat atau engaged journalism. Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai konsumen pasif. Masyarakat menjadi bagian penting dari proses jurnalistik. Mereka bukan hanya objek pemberitaan, tetapi manusia yang memiliki suara, pengalaman, dan kepentingan yang perlu didengar.
Gagasan Wal ini sebenarnya sejalan dengan perkembangan pemikiran jurnalistik modern. Andrea Wenzel dan Jacob L. Nelson, misalnya, melihat engaged journalism sebagai perubahan hubungan antara media dan publik: bukan lagi sekadar hubungan antara media yang memproduksi berita dan masyarakat yang menerima berita, tetapi hubungan yang lebih dekat, dialogis, dan berorientasi pada pembangunan kepercayaan.
Dalam perkembangan ini, keterlibatan publik tidak hanya terjadi melalui komentar atau like di media sosial, tetapi juga melalui proses mendengarkan kebutuhan masyarakat, membangun hubungan dengan komunitas, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk ikut menentukan persoalan apa yang penting untuk diberitakan.
Di sinilah gagasan tentang jurnalisme terlibat semakin relevan. Masyarakat bukan sekadar audience. Mereka adalah manusia yang hidup dalam persoalan nyata. Thomas R. Schmidt, Jacob L. Nelson, dan Regina G. Lawrence dalam kajian mereka tentang engaged journalism menunjukkan bahwa keterlibatan publik sering dipandang sebagai jalan untuk membangun kembali kepercayaan terhadap media dan memperkuat hubungan antara media dan komunitas.










