Oleh: Djoko Setijowarno
SEBUAH destinasi wisata kelas dunia tidak pernah dinilai sekadar dari keindahan lanskap atau kemegahan akomodasinya, melainkan dari sejauh mana sistem di dalamnya mampu menjamin keselamatan setiap nyawa manusia.
Ketika label ‘superprioritas’ dan ‘superpremium’ mulai disematkan pada Labuan Bajo, ekspektasi publik terhadap standar pelayanan publiknya pun otomatis melonjak. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali masih memperlihatkan celah yang mengkhawatirkan.
Tragedi memakan korban jiwa kembali terjadi di Labuan Bajo. Dua wisatawan Austria tewas setelah jatuh di sekitar air terjun Cunca Wulang, Minggu (24/5/2026).
Kejadian ini menambah daftar panjang kecelakaan wisata di destinasi wisata superprioritas, mulai dari jembatan ambruk hingga kapal tenggelam (Kompas, 26/05/2026).
Sesuai namanya sebagai destinasi pariwisata superprioritas, standar keselamatan wajib menjadi prioritas utama. Pemerintah dan pengelola tidak boleh berkompromi dengan keselamatan manusia.
Sangat ironis jika destinasi wisata berlabel superpremium ini justru abai terhadap keselamatan, hingga membuat wisatawan merasa tengah bertaruh nyawa.
Jika terus dibiarkan dan pemerintah tetap abai, bukan tidak mungkin Labuan Bajo akan ditinggalkan oleh pelancong mancanegara.
Bagaimanapun, wisatawan datang untuk bersenang-senang, bukan untuk mempertaruhkan nyawa akibat buruknya layanan dan infrastruktur pendukung. Tanpa adanya jaminan keselamatan, reputasi Labuan Bajo taruhannya.
Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran khusus yang didedikasikan sepenuhnya untuk penanganan keselamatan di Labuan Bajo.
Anggaran ini harus dikucurkan secara sinergis oleh seluruh kementerian dan lembaga yang bertanggung jawab atas keselamatan serta kenyamanan para pelancong.
Urgensi pembenahan transportasi umum
Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) gencar membangun infrastruktur berupa jaringan jalan dan trotoar yang dilengkapi fasilitas halte.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










