Ia menolak untuk larut dalam arus. Justru karena itu, ia menjadi arus yang mengganggu.
Oleh, Fr. Pankrasius Tevin Lory
Kritik sebagai Pilihan Keberadaan
Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958) menekankan, berbicara di ruang publik adalah bentuk tindakan yang menegaskan keberadaan manusia sebagai makhluk politik.
Berbicara di ruang publik bukan sekadar hak, melainkan suatu bentuk keberanian ontologis. Diam, dalam konteks tertentu, justru bisa menjadi bentuk pengingkaran terhadap kemanusiaan itu sendiri.
Rocky, dengan segala kontroversinya, memilih untuk tidak diam. Ia menempatkan dirinya dalam risiko. Risiko ditolak, disalahpahami, bahkan diserang demi mempertahankan diskursus akal sehat. Dalam pilihan itu, ia menjadi lebih dari sekadar individu.
Ia menjadi fenomena eksistensial tentang keberanian menjadi subjek di tengah tekanan untuk menjadi objek. Ia tidak memilih menjadi objek yang dibentuk oleh opini, tetapi menjadi subjek yang membentuk makna. Ia menolak untuk larut dalam arus, dan justru karena itu, ia menjadi arus yang mengganggu.
Keberanian untuk terus menjadi arus pengganggu merupakan bagian integral dari mekanisme demokrasi yang sehat. Kebebasan berpendapat, termasuk kritik terhadap pemerintah, menurut John Stuart Mill, merupakan syarat mutlak bagi pencarian kebenaran (John Stuart Mill, On Liberty, 1859).
Mill berargumen, membungkam pendapat berarti merampas kemungkinan kebenaran. Dalam kerangka ini, upaya membungkam figur kritis justru menunjukkan kelemahan kekuasaan, bukan kekuatannya. Sebab kekuasaan yang percaya diri tidak takut pada kritik. Ia justru bertumbuh melalui koreksi.
Oleh karena itu, kritik bukan lagi pilihan intelektual semata, melainkan pilihan eksistensial antara berjuang menyuarakan keadilan atau larut dalam kebisuan kolektif. Kritik, dalam arti terdalamnya adalah sebuah sikap yang menolak tunduk pada kenyamanan yang meninabobokan kesadaran.
Provokator Intelektual
Dalam dunia yang cenderung mencari kenyamanan intelektual, provokasi yang sering ditampilkan Rocky menjadi mekanisme penting untuk menjaga dinamika kesadaran kritis. Ia mengguncang tatanan berpikir kita. Gayanya yang sering dianggap mengguncang, membuat segelintir orang menganggapnya sebagai provokator.
Namun, jika ditelisik lebih jauh, provokasi, dalam arti yang paling jernih, bukanlah sekadar upaya untuk mengusik, melainkan panggilan untuk berpikir kembali. Rocky menolak menerima realitas sebagai sesuatu yang final. Ia memaksa kita keluar dari kebiasaan mengangguk tanpa bertanya.
Dalam kalimatnya yang tajam, tersembunyi sebuah undangan. Apakah yang kita yakini selama ini sungguh kita pahami, atau hanya kita warisi tanpa pernah diuji?
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










