Oleh: Fransiskus Ndejeng
MENAPAKI Labuan Bajo, ibarat surga kecil yang menguak dunia. Labuan Bajo memiliki sejuta pesona indah menawan rasa.
Rasa ingin mengunjungi Labuan Bajo yang selalu merindu. Di sana ada Varanus Komodo, sebagai maskot dunia. Tersohor dengan istilah tujuh keajaiban Dunia( Seven wonder).
Ada taman laut yang indah. Ada beraneka ragam bunga laut yang menawan hati. Tersebar di seluruh kawasan Taman Nasional Komodo.
Diapiti oleh Tiga Pulau Besar, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. Dikelilingi lintasan pulau-pulau kecil yang berpengaruh terhadap kenamaan Binatang langkah Biawak Komodo. Sebagai binatang purba “Yang tersisa di dunia”.
Labuan Bajo, sebagai sebuah kota kecil pariwisata berkelas dunia, disebut Kota Super Premium. Seperti Mandalika di NTB, Borobudur di Jateng, Danau Toba di Sumut. Bunaken di Sulut. Dilengkapi fasilitas transportasi darat, laut dan udara yang mudah terjangkau ke hampir semua lintasan moda transportasi.
Tol udara, Bandara Internasional Komodo sebagai bandara angkutan udara yang aman dan nyaman ke berbagai penjuru terkoneksi secara baik.
Tol Laut, ada angkutan kapal penumpang khusus untuk trip pariwisata untuk melayani wisawatan, baik domestik maupun mancanegara.
Selain itu, ada moda transportasi kapal pelni dan kapal cepat ekspres ke berbagai jurusan yang terjangkau. Ada angkutan ASDP( Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan), disebut Kapal Ferry.
Ada moda transportasi barang dan jasa lainnya, di bagian utara kota Labuan Bajo, disebut Pelindo 5 Wae kelambu, sekitar 8 km dari pusat kota.
Komodo, Rinca, dan Padar, dan pulau-pulau kecil lainnya; tersimpan mutiara indah yang mulai perlahan digali para pelancong dari berbagai penjuru dunia ini.
Ada kesan dan pesan yang tersirat dan terkesima,” kalau belum melihat Komodo, berarti belum melihat surga tersembunyi di dunia ini”.
Artinya, para pelancong berburu waktu dan peluang serta kesempatan dalam hidupnya untuk menikmati dunia di kota Labuan Bajo; demi melihat Binatang Purba Komodo itu.
Dengan kata lain, aku belum sempurna sebelum akhir hayatku kalau aku belum melihat Binatang Komodo. Melihat binatang Komodo sebagai bagian yang tak terpisahkan dari yang lainnya di tiga kawasan utama di atas.
Ada berbagai anekaragam tawaran yang menarik bagi para penjelajah dunia ini. Tergantung waktu dan kesempatan saja. Ada sejumlah akomodasi tawaran hotel berbintang 5, 4, 3 dan Hotel Melati, juga jenis homestey, sesuai dengan perencanaan dari para penikmat dunia ini.
Apabila berkenan untuk mengunjungi tempat wisata berkelas dunia ini. Dengan memanfaatkan moda transportasi yang memadai dan aman bagi para peziarah dunia ini. Semuanya, dapat terjangkau sesuai kebutuhannya.
Tujuan utama adalah untuk menikmati Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Padar. Bisa terjangkau satu, dua tiga tempat wisata lainnya, yang terpapar di depan mata.
Baik wisata darat, Laut dan keindahannya, menawan raga dan jiwa yang merasa at home. Ibarat tinggal di rumah sendiri. Dibarengi keramahtamahan warga lokal yang selalu mengesankan.
Tidak mau pulang dalam waktu yang cepat. Bertanya dan bergumam dihati, kapan bisa kembali ke Labuan Bajo? Terasa seperti sebuah kota kecil Surga Tersembunyi di atas kolong langit ini. Senantiasa merindu rasa untuk kembali ke kota ini pada waktu dan kesempatan yang mendatang.
So pasti menyesal seribu rindu, kalau belum pernah mengunjungi kota kecil Labuan Bajo, dan berbagai spot wisata yang memesona.
Sebut saja, Air Terjun Cinta Wulang, Spot wisata Batu Cermin dengan berbagai rasa dan nikmat kuliner dan asesoris lainnya.
Spot wisata Tana Mori, dan pasir panjang, Desa Golo Mori. Spot Cinta Rami, spot wisata Wae Kembok, spot wisata Treveling, trecking Pulau Mbeliling, Wae Rebo di atas awan.
Spot wisata Istana Ular di Nanga Lili. Spot wisata Liang Tidak. Spot wisata Liang Niki di Desa Liang Ndata. Danau Sano Nggoang, danau Sano Limbung. Pantai Nanga Lili, dan lain sebagainya.
Alunan kota yang indah lagi menawan, berupa tata kota ala Eropa dan Selandia Baru. Dengan maskot utamanya, adalah waterfront Marina city dan pusat kuliner kenamaan kota Labuan Bajo, terletak di kampung ujung.
Melengkapi tawaran kebutuhan dan keinginan bagi para pelancong lokal dan mancanegara. Sesuai dengan aliran kebutuhan dan keinginan yang tak dapat dipisahkan antara satu dan yang lainnya.
Takut menyesal untuk mungkin tak terulang pada moment dan kesempatan yang sama dan berbeda. Oleh sebab itu, para pelancong direkomendasikan untuk tak lupa merencanakan program liburan wisata ke kota kecil Labuan Bajo sebagai sebuah surga tersimpan di ujung Timur Indonesia.
Selain tawaran keindahan alam, baik darat dan bawah laut; ada juga, tawaran wisata lain yang menggema dan menggeliat kota ini.
Antara lain; wisata budaya dari aneka ragam sanggar. Seperti Sanggar Nipu Ceki di Desa Wisata Liang Dara, kampung Adat Melo. Suguhan ritus budaya Caci, Mbata, Dendek, dan Tarian budaya lainnya, sesuai moment hajatan acara yang dikemas sesuai permintaan pasar wisata.
Wisata Kerajinan bernuansa alam di Nuri , Rekas Senge, yang menawan. Wisata Sawah Berbentuk Lodok serupa jaring Laba-Laba di kawasan Lembor dan Cancar.
Sanggar Sekolahan yang bernuansa pendidikan budaya dan humanora dari SMP Negeri 1 Komodo, bernama Sanggar Uma Rana. Identik dengan Sanggar Kebun Baru (Uma Rana, dialeg Manggarai). Sanggar Budaya dari Sekolah Tari SMK Negeri 3 Komodo di Kaper, Desa Golo Bilas.
Di samping itu pula, ada tempat tujuan wisata Rohani Gereja Tua Rekas, di Desa Golo Kempo, Paroki Maria Berduka Cita Rekas, juga Kapela Tua Stela Maris di Kampung Ujung, kota Labuan Bajo, di bawah naungan Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, calon Keuskupan Baru Labuan Bajo di masa depan.
Dilengkapi oleh Gereja bernuansa wisata Rohani masa depan Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae kesambi, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo. Juga, Paroki Tua Gereja Nunang di dekat Danau Sano Nggoang yang berdiri sekitar tahun 1940 ( Sejarah Perpustakaan Teteringen Belanda).
Juga, dilengkapi oleh keunikan gua-gua Rohani tersohor, seperti Golo Koe, tempat dilaksanakannya, Festival Golo Koe yang memasuki tahun Kedua Keuskupan Ruteng.
Selain itu, ada Gua Firdaus tak jauh dari Bandara Komodo. Gua Maria Dulu, di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling. Perlu dieksplour juga Gua Maria dibukit Dalong, dan Watu Pangkas. Sebagai aset wisata Rohani.
Setelah mengkaji pertumbuhan dan perkembangan kota Super Premium Labuan Bajo, demi menjaga keseimbangan fisik, teknologi perkotaan, secara jasmaniah dan rohaniah.
Perlu didirikannya sebuah Patung Kritus Raja di ujung tempat strategis yang melambangkan suatu napas keseimbangan antara hal duniawi dan hal yang rohaniah.
Sebagai suatu tempat refleksi hidup Rohani yang seimbang dengan hal yang jasmaniah. Agar tidak tergeser oleh aneka pengaruh perkembangan dan peradaban dunia yang semakin menggila, bahkan tak terkejarkan oleh akal sehat.*
Penulis: Pemerhati Masalah Sosial, Pendidikan dan Lingkungan Hidup. Tinggal di Jl. Yohanes Sehadun Bandara Komodo, Labuan Bajo.










