Pertanyaan-pertanyaan reflektif perlu digemakan dalam batin. Mengapa saya datang ke sini? Apakah saya datang karena panggilan hati? Atau saya datang karena perhitungan politik? Apakah saya melihat korban bencana sebagai sesama manusia yang menderita? Atau saya melihat mereka sebagai peluang untuk mendulang simpati?
Refleksi ini mengingatkan kita tentang martabat kemanusiaan. Refleksi ini menuntut kejujuran moral. Refleksi ini menolak instrumentalisasi penderitaan.
Flores sedang berduka. Rakyat Flores memerlukan kehadiran yang tulus. Mereka memerlukan empati yang autentik. Mereka memerlukan solidaritas yang tidak terkontaminasi agenda politik. Mereka memerlukan passion kemanusiaan yang menyala dari hati ke hati.
Para pejabat dan politisi memiliki pilihan. Mereka bisa terus bermain dalam kalkulasi kekuasaan. Mereka bisa terus menjadikan bencana sebagai panggung pencitraan. Atau, mereka bisa memilih jalan lain. Jalan kehadiran autentik. Jalan passion kemanusiaan. Jalan etika kepedulian yang tulus.
Wajah korban bencana telah memanggil dan menggedor nurani semua kita. Namun, panggilan itu menuntut respons etis. Respons yang lahir dari nurani. Respons yang tidak terkontaminasi kepentingan pribadi. Respons yang mengakui martabat manusia seutuhnya.
Inilah saatnya kita mengembalikan kemanusiaan pada tempatnya. Inilah saatnya passion kemanusiaan mengalahkan ambisi politik. Inilah saatnya kehadiran kita bermakna bagi sesama. Bukan untuk diri sendiri.*
*) Jonas K.G.D. Gobang, Rektor UNIPA Maumere
*) Anselmus DW Atasoge, Staf Pengajar Stipar Ende










