Gempa pagi ini merenggut. Ia merenggut nyawa, merenggut rumah, merenggut rasa aman. Namun, ada satu hal yang tidak bisa direnggut oleh gempa mana pun yakni ikatan kita satu sama lain. Ikatan kita dengan tanah ini. Ikatan kita dengan Tuhan yang kita imani. Ikatan itu lebih kuat dari beton, lebih lentur dari bambu, lebih dalam dari akar pohon tua yang mencengkeram batu karang.
Maka, menangislah hari ini. Berdoalah dengan lutut yang gemetar. Peluklah anak-anak kalian lebih erat malam ini. Namun, ketika matahari terbit esok, berdirilah. Angkatlah satu batu. Tanamlah satu harapan. Nyalakanlah satu lilin di antara reruntuhan.
Dan kita, seluruh rakyat Flores, akan merayakan kemerdekaan republik ini pada 17 Agustus nanti. Mungkin di tenda darurat, mungkin di lapangan yang retak, mungkin dengan mata yang masih sembab.
Namun, kita akan merayakannya. Karena kemerdekaan sejati adalah kemampuan untuk tetap berdiri setelah dihantam, untuk tetap berharap setelah kehilangan, untuk tetap mengasihi setelah dilukai.
Bumi boleh berguncang. Kita tidak akan tumbang. Tuhan memberkati Flores. Tuhan memberkati kita semua. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










