Bangunan sekolah, puskesmas, dan pasar tradisional runtuh atau tidak lagi layak digunakan. Jalan-jalan penghubung antarkabupaten terputus oleh longsor dan retakan aspal yang menganga.
Korban jiwa telah dilaporkan. Angka pastinya masih dalam proses verifikasi oleh tim SAR dan relawan. Namun, setiap satu angka itu adalah seorang ibu, seorang anak, seorang kakek yang tadi malam masih duduk bersama keluarga.
Luka-luka fisik menimpa ratusan orang, patah tulang, luka robek, trauma kepala. Rumah sakit kewalahan. Tenaga medis bekerja tanpa henti di antara reruntuhan dan tenda darurat. Tsunami kecil terjadi di beberapa titik.
Jaringan komunikasi terputus di beberapa wilayah. Listrik padam. Air bersih sulit diakses. Di kampung-kampung yang jauh dari pusat kota, warga masih menunggu kabar dan bantuan dengan persediaan seadanya.
Tentunya, malam ini, ribuan keluarga akan tidur di bawah langit terbuka, beralaskan tikar dan beratapkan terpal, dengan jantung yang masih berdebar setiap kali tanah bergetar pelan.
Kita tidak bisa bicara tentang gempa di Flores tanpa menyebut 12 Desember 1992. Malam itu, gempa bermagnitudo 7,8 mengguncang utara Flores, disusul tsunami yang menyapu pesisir dengan gelombang setinggi puluhan meter.
Lebih dari dua ribu lima ratus nyawa melayang. Kota-kota pesisir rata dengan tanah. Keluarga-keluarga kehilangan seluruh anggotanya dalam satu tarikan napas.
Tiga puluh empat tahun telah berlalu. Generasi yang lahir setelah 1992 kini telah dewasa. Mereka tumbuh dengan cerita-cerita tentang malam itu dari mulut orang tua dan kakek-nenek.
Namun, tubuh dan jiwa kolektif masyarakat Flores menyimpan memori itu dalam lapisan yang sangat dalam. Maka, ketika tanah berguncang pagi ini, yang runtuh bukan hanya bangunan.
Yang runtuh juga ‘benteng psikologis’ yang telah dibangun dengan susah payah selama tiga dekade. Ketakutan lama bangkit kembali. Pertanyaan lama menggema kembali: apakah kita siap? Apakah kita akan kehilangan lagi?
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










