Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar - FloresPos Net - Page 2

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangunan sekolah, puskesmas, dan pasar tradisional runtuh atau tidak lagi layak digunakan. Jalan-jalan penghubung antarkabupaten terputus oleh longsor dan retakan aspal yang menganga.

Korban jiwa telah dilaporkan. Angka pastinya masih dalam proses verifikasi oleh tim SAR dan relawan. Namun, setiap satu angka itu adalah seorang ibu, seorang anak, seorang kakek yang tadi malam masih duduk bersama keluarga.

Luka-luka fisik menimpa ratusan orang, patah tulang, luka robek, trauma kepala. Rumah sakit kewalahan. Tenaga medis bekerja tanpa henti di antara reruntuhan dan tenda darurat. Tsunami kecil terjadi di beberapa titik.

Jaringan komunikasi terputus di beberapa wilayah. Listrik padam. Air bersih sulit diakses. Di kampung-kampung yang jauh dari pusat kota, warga masih menunggu kabar dan bantuan dengan persediaan seadanya.

Baca Juga :  Kampanye Ende dan Pilihan untuk Tidak Bertanya

Tentunya, malam ini, ribuan keluarga akan tidur di bawah langit terbuka, beralaskan tikar dan beratapkan terpal, dengan jantung yang masih berdebar setiap kali tanah bergetar pelan.

Kita tidak bisa bicara tentang gempa di Flores tanpa menyebut 12 Desember 1992. Malam itu, gempa bermagnitudo 7,8 mengguncang utara Flores, disusul tsunami yang menyapu pesisir dengan gelombang setinggi puluhan meter.

Lebih dari dua ribu lima ratus nyawa melayang. Kota-kota pesisir rata dengan tanah. Keluarga-keluarga kehilangan seluruh anggotanya dalam satu tarikan napas.

Baca Juga :  Kemiskinan yang Merajalela dalam Terang Ensiklik Rerum Novarum

Tiga puluh empat tahun telah berlalu. Generasi yang lahir setelah 1992 kini telah dewasa. Mereka tumbuh dengan cerita-cerita tentang malam itu dari mulut orang tua dan kakek-nenek.

Namun, tubuh dan jiwa kolektif masyarakat Flores menyimpan memori itu dalam lapisan yang sangat dalam. Maka, ketika tanah berguncang pagi ini, yang runtuh bukan hanya bangunan.

Yang runtuh juga ‘benteng psikologis’ yang telah dibangun dengan susah payah selama tiga dekade. Ketakutan lama bangkit kembali. Pertanyaan lama menggema kembali: apakah kita siap? Apakah kita akan kehilangan lagi?

Berita Terkait

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Berita ini 338 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Atasi Sampah, DLHP Sasar Anak-Anak dan Ibu Rumah Tangga Labuan Bajo

Selasa, 29 Sep 2026 - 19:46 WITA