Namun, di balik duka itu, ada kekuatan yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Kekuatan gotong royong, kekuatan sama-sama rasa, sama-sama angkat.
Kepada mereka yang rumahnya masih berdiri, bukalah pintu. Terimalah tetangga yang kehilangan atap. Bagilah nasi, bagilah air, bagilah selimut. Satu piring yang dibagi adalah satu doa yang diucapkan tanpa kata. Satu tangan yang terulur adalah satu bata pertama untuk membangun kembali.
Kepada para imam, biarawan-biarawati, dan pemimpin umat, jadilah gembala yang hadir secara fisik di tengah umat yang terluka. Bukan hanya doa dari altar yang dibutuhkan hari ini, melainkan tangan yang mengangkat puing, bahu yang menopang yang lemah, dan telinga yang bersedia mendengar tangis tanpa buru-buru memberi nasihat.
Kepada para frater yang mengikrarkan Kaul Kekal, janji kalian hari ini diuji lebih cepat dari yang kalian bayangkan. Namun, justru di sinilah makna kaul itu menjadi nyata. Kalian tidak dipanggil untuk melayani di waktu tenang saja. Kalian dipanggil untuk hadir di tengah badai. Dan badai pagi ini adalah ‘misa pertama kalian yang paling sejati’.
Kepada para seminaris dan keluarga besar San Dominggo Hokeng, tujuh puluh enam tahun lembaga kalian telah melewati berbagai musim kekeringan, banjir, krisis, pandemi, terpaan Lewotobi Laki-Laki.
Gempa ini adalah satu musim lagi. Kalian akan melewatinya. Kalian akan menulis babak baru dalam sejarah lembaga ini, dan babak itu akan dimulai dengan kalimat: “Pada hari bumi mengguncang, kami tetap berdiri.”
Kepada pemerintah daerah dan pusat, bergeraklah cepat, bergeraklah tepat. Rakyat Flores membutuhkan alat berat untuk membuka jalan yang tertimbun longsor. Mereka membutuhkan tenda, air bersih, obat-obatan, dan tenaga medis. Mereka membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak dilupakan di tengah ribuan pulau negeri ini. Setiap jam yang berlalu tanpa bantuan adalah satu jam terlalu lama.
Kepada seluruh bangsa Indonesia, Flores hari ini membutuhkan kalian. Bukan hanya simpati di media sosial. Bukan hanya ungkapan belasungkawa yang lewat dalam dua puluh empat jam.
Flores membutuhkan solidaritas yang bertahan berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga rumah-rumah kembali berdiri dan anak-anak kembali tertawa di halaman sekolah.
Flores adalah tanah yang keras dan indah. Gunung-gunungnya berdiri tegak selama jutaan tahun. Lautnya menyimpan kehidupan dan misteri. Orang-orangnya ditempa oleh matahari, angin, dan kerja keras. Kita adalah anak-anak dari tanah yang tidak mudah menyerah.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










