Pelestarian nilai Keru-Baki di era milenial menuntut pendekatan yang kreatif dan inovatif. Generasi muda perlu menemukan cara-cara baru untuk menghidupkan nilai tradisional ini tanpa kehilangan esensinya.
Teknologi digital, media sosial, dan berbagai platform modern dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan semangat persaudaraan kepada khalayak yang lebih luas. Namun, penggunaan teknologi harus tetap disertai dengan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai luhur yang ingin dilestarikan.
Masyarakat Lamaholot juga mengenal prinsip ‘keloho helo rera wulan galan’ yang berarti hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Prinsip ini melengkapi nilai Keru-Baki dengan menekankan pentingnya integritas dalam membangun persaudaraan. Persaudaraan yang sejati tidak dapat dibangun di atas dasar kebohongan atau ketidakjujuran. Generasi milenial perlu menginternalisasi nilai ini agar persaudaraan yang dibangun bersifat autentik dan berkelanjutan.
Dengan ini, Festival Bale Nagi 2026 menjadi momentum tepat untuk merefleksikan kembali makna persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah tantangan globalisasi, konflik horizontal, dan polarisasi sosial, nilai Keru-Baki menawarkan solusi untuk memperkuat kohesi sosial. Semangat ini mengingatkan bahwa pada akhirnya, semua manusia adalah saudara yang perlu saling menghormati dan menghargai.
Melampaui fungsi seremonial sebagai panggung promosi wisata dan perayaan budaya, Festival Bale Nagi 2026 diharapkan hadir sebagai sebuah panggilan nurani bagi seluruh elemen masyarakat.
Tema “Milenial Keru-Baki, Torang Semua Basudara” mengetuk hati generasi muda untuk merajut kembali simpul-simpul persaudaraan yang menjadi fondasi kokoh kehidupan sosial masyarakat Lamaholot.
Di tengah hiruk-pikuk zaman, semangat ini mengajak anak muda untuk berdiri tegak merawat warisan leluhur, sembari memastikan bahwa ikatan kekerabatan tetap hidup dan berdenyut nadi di setiap langkah peradaban mereka.
Dengan menghidupkan api Keru-Baki dalam keseharian, generasi milenial sesungguhnya sedang membangun peradaban yang harmonis dan berkeadilan. Semangat persaudaraan ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah jurang pemisah, melainkan mozaik indah yang memperkaya khazanah kemanusiaan.
Ketika perbedaan dirayakan sebagai anugerah dan kekayaan bersama, tanah Lamaholot akan bersinar sebagai ‘rumah besar’ yang memayungi semua anak bangsa dalam satu pelukan kekeluargaan yang tulus. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende
Halaman : 1 2









