Hal tersebut selaras dengan konsep keberpihakan yang digagas Gustavo Gutierrez yang mendefinisikan sebagai sikap dan tindakan yang secara sengaja berpihak kepada mereka yang terpinggirkan dan tertindas (Gutierrez, 1973).
Bagi Gutierrez, keberpihakan bukan sekadar belas kasihan individu, melainkan panggilan untuk mengeritik dan mengubah sistem yang menyebabkan ketidakadilan, karena Tuhan sendiri berada di pihak mereka yang tertindas. Bahwa hukum tanpa implementasi adalah teks tanpa daya. Bahwa pemberdayaan tanpa kesadaran kritis hanyalah tambal sulam.
Kemanusiaan berada di atas identitas agama, profesi, dan asal daerah. Setiap manusia memiliki martabat yang tidak dapat dikurangi oleh apa pun.
Perjuangan melawan perdagangan manusia bukan soal siapa yang paling heroik. Ia adalah soal apakah kita semua bersedia menjadi manusia bagi sesama.
Dan mungkin, di situlah iman, hukum, dan kemanusiaan bertemu bukan dalam sorotan kamera, tetapi dalam kerja sunyi yang konsisten. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan Flores bukan sekadar figur viral. Yang dibutuhkan adalah gerakan yang tidak pernah berhenti. *
Penulis adalah Dosen Luar Biasa (DTT) di salah satu universitas swasta terbaik di Kota Yogyakarta.
Editor : Wall Abulat










