Surat Cinta untuk Nagekeo - FloresPos Net - Page 5

Surat Cinta untuk Nagekeo

- Jurnalis

Kamis, 26 Februari 2026 - 15:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemajuan Nagekeo tidak harus dibangun dengan mengorbankan alamnya, tetapi justru dengan menjadikan keindahan alam sebagai kekuatan utama pembangunan. Semakin terjaga keindahan alam, semakin tinggi daya tarik wisata, dan semakin besar potensi pendapatan daerah.

Dalam kerangka ekonomi daerah, pariwisata memiliki kontribusi langsung terhadap PAD melalui retribusi objek wisata dan tiket masuk, pajak usaha pariwisata dan jasa transportasi lokal, dan aktivitas UMKM yang memperluas basis pajak daerah.

Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO, 2018) menunjukkan, sektor pariwisata memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang tinggi karena menggerakkan berbagai sektor ekonomi sekaligus.

Baca Juga :  Fenomena Non-Aktif: Negosiasi antara Kekuasaan, Moral Publik dan Tekanan Sosial

Jika alam adalah ruang hidup manusia, maka budaya adalah jiwa kolektifnya. Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973) melihat budaya sebagai sistem makna yang diwariskan melalui simbol dan praktik sosial.

Tradisi adat, ritus, bahasa lokal, musik, tarian, serta pola hidup masyarakat Nagekeo bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga sumber identitas yang memberi arah masa depan.

Berkenaan dengan ini, pengakuan terhadap identitas budaya, menurut Charles Taylor merupakan kebutuhan moral manusia (Charles Taylor, Multiculturalism and The Politics of Recognition, 1992).

Baca Juga :  Logistik Perintis Lumpuh, Program Strategis Nasional MBG dan KDMP Terancam Gagal

Ketika budaya dihargai, masyarakat mengalami pengakuan (recognition), yang memperkuat martabat sosial dan solidaritas komunitas. Modernisasi sering membawa risiko homogenisasi budaya. Banyak daerah kehilangan jati diri karena meniru model pembangunan luar tanpa refleksi kritis.

Pariwisata budaya justru membalik logika tersebut. Identitas lokal menjadi kekuatan utama, bukan hambatan kemajuan. Dengan demikian, pariwisata budaya di Nagekeo bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan proyek peradaban lokal. *

Penulis, Sedang Menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Berita ini 1,407 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:06 WITA

Sumpah yang Dimudahkan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Berita Terbaru

Opini

Sumpah yang Dimudahkan

Kamis, 29 Okt 2026 - 16:06 WITA