Oleh: Arnoldus Dhae, S.Fil
SUATU sore di kampung halamanku nun jauh di pedalaman lereng gunung Ebulobo. Saya duduk di teras rumah tua kami. Sambil baca beberapa informasi terkini dari android jadulku.
Di sudut teras berkumpul sekelompok anak SD. Mereka teman seangkatan. Satu kelas. Sepertinya mereka sedang menyelesaikan tugas sekolah, yang dalam bahasa kami dulu disebut PR. Beberapa di antara mereka memegang android juga.
Dan kemudian ternyata, mereka membacakan pertanyaan dengan suara keras, direkam di android. Kemudian keluar jawaban. Jawaban itu kemudian disalin dengan tulisan tangan di kertas.
Kursi duduk saya, saya geser perlahan mendekati kelompok anak-anak yang sedang mengerjakan PR tanpa mereka curiga. Saya pura-pura tidak memperhatikan mereka.
Saya terus amati. Semua pertanyaan dibacakan dengan suara keras, direkam di android, lalu keluar jawaban, lalu disalin kembali ke kertas putih. Sudah pasti kertas itulah yang dikumpulkan ke guru mata pelajaran yang bersangkutan. Ini pengalaman pertama.
Pengalaman kedua, dalam sebuah sessie di sebuah kampus. Saya menjadi pematerinya. Durasinya sangat panjang, hampir dua jam. Saat itu ada teman wartawan yang menemani saya ke kampus yang bersangkutan.
Dia berbaur dengan mahasiswa, duduk di kursi paling belakang. Dan dia lihat sendiri, ada banyak mahasiswa-mahasiswi yang sedang mencari afirmasi di AI dan ChatGTP terhadap materi yang sedang saya sajikan.
Dan mereka menyatakan, materi saya lebih dalam, lebih aktual, lebih kontekstual, lebih komunikatif, diformulasikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Pak, anak-anak cek di AI dan ChatGTP. Tapi mereka mengagumi pak ternyata,” begitulah kata teman wartawan yang menemani aku saat kami bubar dari kampus dan ngopi santai di warung pinggir jalan. Saya jelaskan, bahwa saya cukup pengalaman dengan materi yang saya bawakan, dan bukan baru pertama kali.
Pengalaman ketiga, ada seorang pengacara muda bergaya anak milenial. Sepertinya dia baru lulus uji profesi menjadi pengacara.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










