AI dan ChatGTP Jadi Ancaman Kualitas Berpikir dan Beretorika - FloresPos Net

AI dan ChatGTP Jadi Ancaman Kualitas Berpikir dan Beretorika

- Jurnalis

Kamis, 18 Desember 2025 - 08:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Arnoldus Dhae, S.Fil

SUATU sore di kampung halamanku nun jauh di pedalaman lereng gunung Ebulobo. Saya duduk di teras rumah tua kami. Sambil baca beberapa informasi terkini dari android jadulku.

Di sudut teras berkumpul sekelompok anak SD. Mereka teman seangkatan. Satu kelas. Sepertinya mereka sedang menyelesaikan tugas sekolah, yang dalam bahasa kami dulu disebut PR. Beberapa di antara mereka memegang android juga.

Dan kemudian ternyata, mereka membacakan pertanyaan dengan suara keras, direkam di android. Kemudian keluar jawaban. Jawaban itu kemudian disalin dengan tulisan tangan di kertas.

Kursi duduk saya, saya geser perlahan mendekati kelompok anak-anak yang sedang mengerjakan PR tanpa mereka curiga. Saya pura-pura tidak memperhatikan mereka.

Baca Juga :  Lamentasi Affan

Saya terus amati. Semua pertanyaan dibacakan dengan suara keras, direkam di android, lalu keluar jawaban, lalu disalin kembali ke kertas putih. Sudah pasti kertas itulah yang dikumpulkan ke guru mata pelajaran yang bersangkutan.  Ini pengalaman pertama.

Pengalaman kedua, dalam sebuah sessie di sebuah kampus. Saya menjadi pematerinya. Durasinya sangat panjang, hampir dua jam. Saat itu ada teman wartawan yang menemani saya ke kampus yang bersangkutan.

Dia berbaur dengan mahasiswa, duduk di kursi paling belakang. Dan dia lihat sendiri, ada banyak mahasiswa-mahasiswi yang sedang mencari afirmasi di AI dan ChatGTP terhadap materi yang sedang saya sajikan.

Baca Juga :  Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Dan mereka menyatakan, materi saya lebih dalam, lebih aktual, lebih kontekstual, lebih komunikatif, diformulasikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

“Pak, anak-anak cek di AI dan ChatGTP. Tapi mereka mengagumi pak ternyata,” begitulah kata teman wartawan yang menemani aku saat kami bubar dari kampus dan ngopi santai di warung pinggir jalan. Saya jelaskan, bahwa saya cukup pengalaman dengan materi yang saya bawakan, dan bukan baru pertama kali.

Pengalaman ketiga, ada seorang pengacara muda bergaya anak milenial. Sepertinya dia baru lulus uji profesi menjadi pengacara.

Berita Terkait

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Indonesia yang Sibuk, Tapi Kehilangan Kepedulian
Berita ini 245 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:14 WITA

Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA