Tapi diduga kuat, dasar mafia, polisi juga menggunakan laporan-laporan itu sebagai alat yang kerap menyandera Patris Seo. Polisi diduga kuat memakai laporan-laporan warga korban itu sebagai alat kompromi untuk membajak dan bila perlu memeras kembali Patris Seo. Kita bisa katakan: sesama mafia saling merampok, saling memperalat dan saling menyandera.
Hal itu menimpa wartawan VoxNtt.Com., Patrick Djawa yang kala itu masih menjadi jurnalis TribunFlores.com tahun 2023 (VoxNtt.com 4/12/2023). Patris Seo menjadi salah satu pelapor terhadap Patrick atas tuduhan pencemaran nama baik, meski belakangan Seo baru mengakui jika laporan tersebut berdasarkan pesanan dari Kapolres Nagekeo sebelumnya, Yudha Pranata.
Seorang Kapolres sekelas KH Destroyer model Yudha Pranata bisa memesan laporan kepada Patris Seo untuk mengkriminalisasi kerja jurnalistik. Ini kejahatan yang luar biasa dari aparat penegak hukum di Nagekeo.
Selain itu, Patris Seo juga merupakan pelanggan setia Cokelat Cafe, tempat hiburan malam yang diduga kuat milik Kabag Ops Polres Nagekeo, Serfolus Tegu. Bahkan ada dugaan kuat bahwa Patris Seo ini merupakan salah satu pelanggan para ladies di Café Cokelat yang “bernyanyi” dan gemar bertamasya bersama para ladies ke mana suka.
Bahkan diduga kuat, salah satu temanya yang sama-sama pelanggan Café Cokelat nekat “bernyanyi” tanpa bayar ladies alias bon. Dunia esek-esek itu usia setua umur bumi dan manusia. Tapi baru pertama kali terjadi di bawah kolong langit bahwa ada pelanggan tetap Café Cokelat yang “bernyanyi” tanpa bayar alias bon dulu.
Kios-kios di pinggir jalan saja biasanya kita berbelanja langsung membayar. Bapak-bapak kita ini sangat spesial dan sangat berpengaruh di mata pemilik Café Cokelat yang diduga Kabag Ops Polres Nagekeo, Serfolus Tegu dalam panggung gerombolan mafia waduk Lambo. Warga Nagekeo tahu akhirnya para ladies dari Café Cokelat datang menagih utang “nyanyi” di rumah temannya, dan bertemu dengan isteri dan anak-anaknya.
Betap hancur keluarga ini sebagai dampak sangat jahat dan buruk dari Café Cokelat yang diduga pemiliknya adalah oknum polisi yang diduga menjadi otak gerombolan mafia waduk Lambo. Café Cokelaat telah menghancurkan sendi-sendi keluarga sebagai dasar bangunan hidup sosial.
Terkait Patris Seo dan temannya yang “menyangi” dengan bon ini, saya ingat ada satu tulisan kecil di sebuah warung kopi depan Pelabuhan Lewoleba Lembata. Bunyinya: Dunia hancur karena bom, kios hancur karena bon. Di Nagekeo: biar bon, ladies tetap hadir karena pemiliknya diduga tetap Serfolus Tegu.
Sampai di titik ini, saya tertegun: jangan-jangan gerombolan mafia waduk Lambo yang sangat bernafsu merampok hak-hak ketiga suku: Redu, Gaja dan Isa hanya karena mau bayar bon di Cokelat Café? Ini semua hanya dugaan saja.
Siapa yang bisa melarang orang menduga dengan akal sehat? Harap pengacara “gondrong” KH Destroyer tidak ugal-ugalan lagi melaporkan “dugaan” ke Polres Nahekeo.










