Lembata Tanpa Maling (?)

- Jurnalis

Senin, 1 September 2025 - 08:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Steph Tupeng Witin

Steph Tupeng Witin

Oleh: Steph Tupeng Witin

DUET Kanis Tuaq-Muhamad Nasir tengah mengemban amanat (mayoritas) rakyat Lembata. Publik mengharapkan agar keduanya bersinergi dengan nurani terjaga dalam membangun tanah Lembata ini.

Usia otonomi Lembata 26 tahun belum menjamin kehidupan rakyat. Masih terlalu banyak hal yang mesti dibenahi akibat “salah urus” warisan rezim sebelumnya berslogan “taan tou.”

Lewoleba mungkin gemerlap di malam hari tapi penataan kota masih bobrok dan semrawut. Sampah-sampah bertebaran di tubuh kota yang lebih mirip “kampung besar.” Got dan selokan berserakan sampah aneka jenis. Banyak toko kecil atau kios yang seenaknya memakan badan jalan umum. Kita tidak tahu siapa yang bisa mengaturnya?

Jalan kecil dan lorong-lorong dalam kota kondisinya mengenaskan, penuh lobang dan aspal berserakan. Kendaraan yang melumat badan jalan yang penuh lobang itu menghasilkan suara keras menyaingi dentuman Ile Lewotolok. Ini baru di kota. Kita belum omong kenyataan di kampung-kampung udik.

Baca Juga :  Tolak Proyek Geothermal Demi Keutuhan Ciptaan (Dukungan “Kecil” atas Sikap Tegas Uskup Agung Ende)

Realitas Lembata hari ini menarasikan partisipasi semua anak tanah Lembata yang mengabdi dalam berbagai bentuk karya. Akar kata “partisipasi” dari kata Latin: “pars” yang artinya: bagian.

Setiap orang menyumbang “bagian” masing-masing. Sumbangan dari setiap orang, mungkin terbatas dan kecil, akan menyatu dalam keutuhan. Otonomi mesti kita isi sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat. Tanda kita bertanggung jawab atas perjuangan para penggagas Maklumat Tujuh Maret yang heroik itu.

Saya mengutip kembali tulisan Romo Frans Amanue ketika memberi kata pengantar dalam buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” (Nusa Indah, 2016). “Seandainya para penggagas Maklumat Tujuh Maret bisa bangun dari kuburnya, berankkah kita berujar kepada mereka bahwa perjuangan mereka telah kita isi tidak untuk sia-sia? Andaikan leluhur penggagas Tujuh Maret bisa bangun lagi, beranikah kita rakyat Lembata mengakui dengan jujur bahwa kita telah menyerahkan otonomi ini kepada tangan para maling?” (Hlm. 10-11).

Baca Juga :  Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo

Tulisan Romo Frans Amanue dalam buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” itu telah terbit nun di tahun 2016 silam. Tapi detak suaranya tetap bergemuruh dan relevan sepanjang masa.

Lembata dalam usia otonomi 26 tahun mesti terus dibenahi dengan kerja cerdas dan pengabdian tulus dari segenap komponen warga. Tidak hanya meletakkan seluruh harapan kita pada pemimpin terpilih yang kadang rasanya terlalu berat untuk diemban dengan kemampuan yang sangat terbatas.

Orang Lembata tentu mengenal Kanis Tuaq-Muhamad Nasir dengan baik sehingga berani menjatuhkan pilihan pada Pilkada 2024 lalu. Kemenangan politik bukan sebuah kesuksesan momental. Ia menyertai tanggung jawab yang tidak akan pernah selesai. Semua orang yang berani memenangkan “duet maut” ini memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk berpartisipasi dalam derap kepemimpinan mereka.

Berita Terkait

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)
Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo
Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis
Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia
Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)
Polemik, Kronologi 14 Bidang Tanah dan Terempasnya Dus Wedo
Mempertanyakan Posisi Moral Pater Mill (Catatan Sekenanya Saja untuk Tulisan di Media Luar Jangkauan)
Rakyat Nagekeo Harus Tolak Bungkam (Dukungan untuk Suku Redu, Isa dan Gaja)
Berita ini 509 kali dibaca
Redaksi: Ikuti terus "ORING" setiap Senin dan Kamis dalam sepekan. Hanya di Florespos.net

Berita Terkait

Senin, 3 November 2025 - 18:05 WITA

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)

Kamis, 30 Oktober 2025 - 15:23 WITA

Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:55 WITA

Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 13:18 WITA

Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:55 WITA

Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)

Berita Terbaru