Oleh: Steph Tupeng Witin
DUET Kanis Tuaq-Muhamad Nasir tengah mengemban amanat (mayoritas) rakyat Lembata. Publik mengharapkan agar keduanya bersinergi dengan nurani terjaga dalam membangun tanah Lembata ini.
Usia otonomi Lembata 26 tahun belum menjamin kehidupan rakyat. Masih terlalu banyak hal yang mesti dibenahi akibat “salah urus” warisan rezim sebelumnya berslogan “taan tou.”
Lewoleba mungkin gemerlap di malam hari tapi penataan kota masih bobrok dan semrawut. Sampah-sampah bertebaran di tubuh kota yang lebih mirip “kampung besar.” Got dan selokan berserakan sampah aneka jenis. Banyak toko kecil atau kios yang seenaknya memakan badan jalan umum. Kita tidak tahu siapa yang bisa mengaturnya?
Jalan kecil dan lorong-lorong dalam kota kondisinya mengenaskan, penuh lobang dan aspal berserakan. Kendaraan yang melumat badan jalan yang penuh lobang itu menghasilkan suara keras menyaingi dentuman Ile Lewotolok. Ini baru di kota. Kita belum omong kenyataan di kampung-kampung udik.
Realitas Lembata hari ini menarasikan partisipasi semua anak tanah Lembata yang mengabdi dalam berbagai bentuk karya. Akar kata “partisipasi” dari kata Latin: “pars” yang artinya: bagian.
Setiap orang menyumbang “bagian” masing-masing. Sumbangan dari setiap orang, mungkin terbatas dan kecil, akan menyatu dalam keutuhan. Otonomi mesti kita isi sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat. Tanda kita bertanggung jawab atas perjuangan para penggagas Maklumat Tujuh Maret yang heroik itu.
Saya mengutip kembali tulisan Romo Frans Amanue ketika memberi kata pengantar dalam buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” (Nusa Indah, 2016). “Seandainya para penggagas Maklumat Tujuh Maret bisa bangun dari kuburnya, berankkah kita berujar kepada mereka bahwa perjuangan mereka telah kita isi tidak untuk sia-sia? Andaikan leluhur penggagas Tujuh Maret bisa bangun lagi, beranikah kita rakyat Lembata mengakui dengan jujur bahwa kita telah menyerahkan otonomi ini kepada tangan para maling?” (Hlm. 10-11).
Tulisan Romo Frans Amanue dalam buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” itu telah terbit nun di tahun 2016 silam. Tapi detak suaranya tetap bergemuruh dan relevan sepanjang masa.
Lembata dalam usia otonomi 26 tahun mesti terus dibenahi dengan kerja cerdas dan pengabdian tulus dari segenap komponen warga. Tidak hanya meletakkan seluruh harapan kita pada pemimpin terpilih yang kadang rasanya terlalu berat untuk diemban dengan kemampuan yang sangat terbatas.
Orang Lembata tentu mengenal Kanis Tuaq-Muhamad Nasir dengan baik sehingga berani menjatuhkan pilihan pada Pilkada 2024 lalu. Kemenangan politik bukan sebuah kesuksesan momental. Ia menyertai tanggung jawab yang tidak akan pernah selesai. Semua orang yang berani memenangkan “duet maut” ini memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk berpartisipasi dalam derap kepemimpinan mereka.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya











