Pasca pelantikan, Kanis Tuaq-Muhamad Nasir milik seluruh rakyat Lembata. Tidak ada lagi tim sukses pemenangan. Biasanya tim sukses ini menjadi maling untuk meminta proyek. Gemar mencatut nama bupati dan wakil bupati untuk tetek-bengek yang terkait dengan urusan menjarah hak rakyat.
Orang Lembata sering mendengar istilah: balas jasa, kembalikan jerih lelah, tutup kembali semua jenis pengeluaran, dan sebagainya. Ketika paket yang didukung meraih kemenangan, semua orang berebut memamerkan mukanya. Tapi kalau paketnya kalah, bisa menjadi bunglon: segera berganti warna kulit. Agar tetap eksis dalam dunia kemalingan.
Lembata ini, seperti Indonesia, dianugerahi Tuhan dengan beragam potensi dan kekayaan alam. Orang-orang yang terpilih dalam proses politik: bupati, wakil bupati dan anggota DPRD, butuh sedikit kecerdasan akal dan Kesehatan nurani untuk memaksimalkannya demi kemaslahatan lewotana ini.
Kecerdasan itu dirajut dalam kerja sama (gemohing) yang terbahasakan dalam slogan “taan tou” itu. Negara-negara lain, termasuk kabupaten lain, yang sangat terbatas kekayaan sumber dya alamnya pun mampu menggapai kemajuan luar biasa karena segala sesuatu dimulai dari pemimpinnya.
Hidup sederhana. Berani menolak segala jenis tunjangan sebagai ekspresi empati mendalam terhadap realitas kemiskinan rakyatnya. Pemimpin yang sederhana dan jujur akan menjadi “cahaya” bagi segenap bawahan.
Era modern ini menyediakan beragam jalan dan fasilitas untuk meminimalisasi hasrat kemalingan. Saya selalu berpikir agak nakal ketika membayar karcis masuk di area-area publik dengan lembaran uang tidak seberapa. Apakah uang-uang itu sampai kepada peruntukannya dengan lancar dan aman? Bukan soal tidak percaya kepada sesama manusia yang kebetulan ada di tempat publik itu.
Tapi ini soal kemampuan pemimpin untuk menghadirkan sarana dan fasilitas “sedikit modern” untuk memastikan bahwa prasangka tidak percaya itu bisa hilang. Efisiensi anggaran harus menjadi pelecut energi pengabdian semua komponen untuk mencari solusi berbasis kekuatan lokal.
Potensi alam bisa menjadi kekuatan paling dasar menghadapi guncangan kekuatan krisis moneter sedahsyat apa pun. Rakyat kecil dan sederhana di kampung-kampung-yang kadang hanya diukur lewat suara politik musiman-adalah kekuatan dominan bangsa ini.
Orang-orang kecil itu hanya punya nurani. Mereka mesti jadi supremasi sipil sebagai benteng terakhir dalam menjaga gerak negara dan daerah ini agar tetap berpihak pada rakyat, bukan pada kekuatan politik, apalagi senjata.
Negara kita ini sedang tidak baik-baik saja. Imbasnya pasti mempengaruhi semua lini kehidupan. Beragam program pembangunan pantas diapresiasi tapi ada banyak hal yang mesti dibenahi tanpa lelah.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










