Bahkan pengacara yang diduga otak mafia juga adalah kotoran yang harus segera dibersihkan dari bibir waduk Lambo agar pembangunan waduk berjalan normal kembali untuk memasok air bagi pengembangan pertanian di Mbay dan sekitarnya.
Bukan Jongos Kekuasaan
Dalam kasus dugaan terjangan gerombolan mafia waduk Lambo, ada wartawan piaraan KH Destroyer yang menyebarkan informasi bohong dan sesat melalui portal berita yang lebih mirip akun medsos. Akun-akun ini diduga kuat sangat abal-abal. Wartawannya bisa diduga kualitas kemampuannya.
Kita mesti beri pencerahan tentang peran pers agar kalau mereka sadar tersesat, segera kembali memuliakan martabatnya dan berbalik menjadi jurnalis yang baik dan benar. Kalau jurnalis tetap menjadi piaraan KH Destroyer, apa bedanya dengan pelanggan tetap Cokelat Café yang “ngantor” ladies tanpa bayar?
Pers adalah institusi yang menjalankan profesi jurnalisme: aktivitas mencari atau mengumpulkan, mengolah atau menyeleksi, menyusun atau menulis dan menyebarluaskan informasi kepada publik.
Proses jurnalistik ini merupakan bagian dari komunikasi yaitu upaya untuk membagi sesuatu (informasi) kepada publik untuk membangun pemahaman kritis. Kerja jurnalisme ini berkiblat pada terbentuknya pemahaman yang sekurang-kurangnya sama tentang sebuah fakta. Tapi aneka kepentingan dan interese primordial kadang menggadaikan misi luhur pers sebagai institusi yang mesti mencerdaskan publik.
Kepentingan publik mendorong orang-orang yang memiliki otak dan hati nurani untuk bekerja sebagai jurnalis. Jurnalisme adalah aktivitas intelektual dan nurani yang yang mengabdi kepentingan orang banyak.
Kehendak untuk mengabdi kepada kepentingan publik didorong oleh bisikan hati nurani yang tumbuh dalam keyakinan akan kebenaran ajaran agama, ideologi, nilai-nilai luhur dan kearifan. Maka jurnalis mengalami tiga momen dalam karier jurnalisme. Pertama, perakit, penyusun data, kata-kata dan gambar menjadi kalimat dan cerita.
Kedua, pekerja intelektual yang dengan kecerdasan intelektual mengungkapkan kebenaran dan kesalahan. Ketiga, pekerja hati nurani yang berbasis kepekaan hati nurani menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal mengungkapkan kebenaran dan keadilan. Kadar intelektualitas dan hati nurani meningkat dalam setiap tingkatan (Atmakusuma: 2014: 24-25).
Kecerdasan intelektual dan hati nurani menggerakkan jurnalis untuk selalu gelisah dengan realitas sosial, politik, hukum, ekonomi dan sebagainya. Jurnalis beraktivitas menerapkan jurnalisme verifikasi, jurnalisme harapan dan jurnalisme damai (peaceful reporting).
Tapi dalam situasi politik, hukum dan permainan kapital yang gila di Flores-Lembata, jurnalis mesti lebih mengedepankan jurnalisme kenabian (prophetic journalism). Jurnalis mesti memiliki militansi, semangat pantang menyerah apalagi takluk pada sodoran “fulus” kapital yang sering menjadi perpanjangan tangan kekuasaan politik dan birokrasi.










