Pada zaman represif, hiduplah bandit yang menetap (stationary bandits) yang tidak akan menjarah habis wilayahnya. Bahkan ia akan menjaga wilayahnya dengan kekuatan “keamanan” dan memberi keleluasaan kepada penduduk untuk maju. Lalu dia berkuasa dengan menarik berbagai pungutan sebagai sandaran hidupnya sambil membangun “kerajaannya.”
Ketika rezim represif ini runtuh, muncullah bandit berkeliaran (roving bandits) yang selama ini mengabdi bandit menetap yang berkuasa. Jenis bandit ini terkenal sadis dan buas: menjarah habis sebuah wilayah berpindah ke tempat lain, bila perlu manusia (wanita) pun dijarah. Bandit berkeliaran ini leluasa meneror kelompok yang mencoba menghalangi kekuasaannya dan bertindak sebagai pemalak dan pemeras.
Kita tidak tahu sekarang ini, dalam kacamata Olson di atas: dugaan gerombolan mafia itu: ada bandit yang mengembara (roving bandits) dan bandit menetap (stationary bandits)? Mungkin saja keduanya ada dan hidup. Yang Namanya mafia dan bandit itu, otaknya adalah kehancuran. Jika kita berkomitmen membersihkan waduk Lambo dari terjangan ugal-ugalan gerombolan mafia dan bandit, segenap elemen Nagekeo harus bersatu dan bersinergi.
Dugaan mafia dan badit harus dimusnahkan jika kita berkeinginan agar Nagekeo menjadi “rumah masa depan” penuh harapan bagi generasi muda. Idealisme itu hanya mungkin ketika kepemimpinan Nagekeo kuat dan tidak diterjang oleh dugaan gerombolan mafia dan bandit yang saat ini panik dan linglung!
Kita harap agar Propam Polda NTT yang sedang berada di Nagekeo bekerja dengan benar untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Propam Polda NTT harus membangun kepercayaan rakyat Nagekeo setelah institusi Polres Nagekeo dihancurkan kredibilitasnya oleh otak mafia semodel Yudha Pranata dan Serfolus Tegu.
Propam jangan bersandiwara dengan memeriksa sekian banyak orang ke seluruh dunia Nagekeo hanya untuk seorang polisi bernama Serfolus Tegu yang jejak buruknya sudah tertulis abadi dalam berbagai jenis laporan investigasi, opini dan berita media.
Propam Polda jangan lagi mengulangi kasus pencekikan wartawan oleh anggota KH Destroyer yang hingga detik ini berkeliaran hanya karena “orang kuar” baik dari Jakarta maupun dari Polres Nagekeo.
Kita berharap agar Propam Polda NTT membersihkan institusi Polres Nagekeo dari oknum-oknum yang diduga terlibat dalam mafia waduk Lambo. Jangan sampai kehadiran Propam Polda NTT hanya sandiwara untuk kesekian kalinya.
Jejaring kritis sedang menyiapkan banyak laporan untuk diteruskan ke jajaran Polri dan elite negara lebih tinggi sebagai bukti keseriusan dalam membersihkan kotoran gerombolan mafia dari waduk Lambo khususnya dan Nagekeo umumnya. *
Jurnalis, Penulis Buku dan Pendiri Oring Literasi Siloam Lembata.










