Itu berarti, kebijakan hendaknya selalu dirancang bersama masyarakat lokal dalam sebuah dialog yang saling menghormati dan memberi ruang bagi gagasan inovatif.
Dalam dialog seperti ini, masyarakat lokal perlahan-lahan akan melihat, bahwa modernisasi itu bukanlah ancaman, melainkan kekuatan untuk memperkuat kapasitas komunitas.
Tujuan yang ingin dicapai adalah kesuksesan pembangunan yang tidak hanya dinikmati secara ekonomis, tetapi juga secara sosial dan kultural.
Kunci untuk mencapai tujuan ini terletak pada gagasan penyatuan cakrawala yang diperkenalkan oleh filsuf Hans-Georg Gadamer dalam karya Wahrheit und Methode (1960).
Dalam konsep hermeneutika Gadamer, penyatuan cakrawala mengajak kita untuk mengakui bahwa untuk benar-benar memahami orang lain, kita harus terbuka terhadap dunia mereka—termasuk konteks sejarah dan budaya yang membentuk cara mereka melihat dunia.
Menerjemahkan konsep ini ke dalam konteks pembangunan dari bawah, berarti siap untuk masuk dan mengidentifikasikan diri dengan situasi masyarakat bawah, bukan hanya sekedar mendengarkan atau pura-pura mendengarkan.
Ketika wacana yang digulirkan di masyarakat bawah adalah tentang tanah, misalnya, maka kepekaan solidaritas kita harus mencakup pemahaman, bahwa masyarakat adat tidak pernah memahami tanah hanya sebagai sumber daya ekonomi.
Dalam wacana tentang „tanah“ selalu ada dimensi spiritual dan sosial yang terhubung dengan komunitasnya.
Di sinilah pentingnya membangun sebuah jembatan pemahaman antara dua cakrawala yang berbeda: antara pengetahuan modern dan kebijakan lokal/tradisional.
Keberhasilan perpaduan pemahaman tidak terletak pada membagi informasi timbal balik sebanyak-banyaknya, melainkan menciptakan sebuah “wadah bersama“ untuk saling memperkaya dalam cara kedua pihak melihat dunia.
Hal ini hanya mungkin jika ada dialog sejati, dimana masing-masing pihak tanpa tekanan apa pun dapat berbicara dalam “bahasanya masing-masing“.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










