Menuju Penyatuan Cakrawala - FloresPos Net - Page 2

Menuju Penyatuan Cakrawala

- Jurnalis

Kamis, 30 Oktober 2025 - 13:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polykarp Ulin Agan

Polykarp Ulin Agan

Itu berarti, kebijakan hendaknya selalu dirancang bersama masyarakat lokal dalam sebuah dialog yang saling menghormati dan memberi ruang bagi gagasan inovatif.

Dalam dialog seperti ini, masyarakat lokal perlahan-lahan akan melihat, bahwa modernisasi itu bukanlah ancaman, melainkan kekuatan untuk memperkuat kapasitas komunitas.

Tujuan yang ingin dicapai adalah kesuksesan pembangunan yang tidak hanya dinikmati secara ekonomis, tetapi juga secara sosial dan kultural.

Kunci untuk mencapai tujuan ini terletak pada gagasan penyatuan cakrawala yang diperkenalkan oleh filsuf Hans-Georg Gadamer dalam karya Wahrheit und Methode (1960).

Baca Juga :  Rumah yang Aman dan Perisai Tubuh

Dalam konsep hermeneutika Gadamer, penyatuan cakrawala mengajak kita untuk mengakui bahwa untuk benar-benar memahami orang lain, kita harus terbuka terhadap dunia mereka—termasuk konteks sejarah dan budaya yang membentuk cara mereka melihat dunia.

Menerjemahkan konsep ini ke dalam konteks pembangunan dari bawah, berarti siap untuk masuk dan mengidentifikasikan diri dengan situasi masyarakat bawah, bukan hanya sekedar mendengarkan atau pura-pura mendengarkan.

Ketika wacana yang digulirkan di masyarakat bawah adalah tentang tanah, misalnya, maka kepekaan solidaritas kita harus mencakup pemahaman, bahwa masyarakat adat tidak pernah memahami tanah hanya sebagai sumber daya ekonomi.

Baca Juga :  Menjaga Kesucian Agama di Ruang Digital

Dalam wacana tentang „tanah“ selalu ada dimensi spiritual dan sosial yang terhubung dengan komunitasnya.
Di sinilah pentingnya membangun sebuah jembatan pemahaman antara dua cakrawala yang berbeda: antara pengetahuan modern dan kebijakan lokal/tradisional.

Keberhasilan perpaduan pemahaman tidak terletak pada membagi informasi timbal balik sebanyak-banyaknya, melainkan menciptakan sebuah “wadah bersama“ untuk saling memperkaya dalam cara kedua pihak melihat dunia.

Hal ini hanya mungkin jika ada dialog sejati, dimana masing-masing pihak tanpa tekanan apa pun dapat berbicara dalam “bahasanya masing-masing“.

Berita Terkait

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib
Berita ini 153 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:55 WITA

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WITA

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:49 WITA

Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Kunjungi SDN Wolomoni Ende, Wapres RI Bawa Pulang Sejumlah PR

Kamis, 18 Jun 2026 - 17:47 WITA