Menuju Penyatuan Cakrawala - FloresPos Net

Menuju Penyatuan Cakrawala

- Jurnalis

Kamis, 30 Oktober 2025 - 13:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polykarp Ulin Agan

Polykarp Ulin Agan

Oleh: Polykarp Ulin Agan

DI PENGHUJUNG Oktober 2025 ini, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menjadi pusat perhatian dalam perayaan Festival Pangan Lokal dan Budaya NTT 2025. Tema yang didengungkan pun sarat dengan nuansa budaya: “Melestarikan Rasa, Menjaga Keberagaman Budaya”.

Khususnya subtema “Merajut Kisah Pangan Lokal dari Ladang ke Meja” menjanjikan sebuah ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif.
Singkatnya, festival ini bukan hanya sebuah festival kuliner atau pameran budaya, melainkan sebuah wadah edukasi lintas perspektif.

Ia tidak hanya mengajak masyarakat memahami pentingnya keanekaragaman hayati dan pertanian berkelanjutan, tetapi juga menyentuh corak keberadaan masyarakat yang plural.

Salah satu aspek menarik dalam festival ini ialah kenyataan, bahwa melalui serangkaian lokakarya, demo memasak, dan pameran produk lokal, masyarakat diundang untuk tidak hanya merayakan warisan budaya masa lalu, tetapi juga menyiapkan langkah nyata bagi masa depan.

Baca Juga :  Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Elite

Dalam undangan ini tersirat sebuah ajakan untuk memikirkan kembali cara berdialog dan berinteraksi dengan keberagaman—baik itu dalam hal budaya, tradisi, atau bahkan pola pikir.

Dari Resistensi Menuju, Penyatuan Cakrawala

Bukan suatu hal baru, bahwa di banyak wilayah, termasuk NTT, gagasan kemajuan—entah itu tepat sasar atau tidak—sering kali dihadapkan pada resistensi kelompok yang memiliki pola pikir yang berbeda.

Petani tradisional, komunitas adat, dan kelompok etnis minoritas seringkali melihat model pembangunan modern yang top-down sebagai ancaman terhadap cara hidupnya yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Baca Juga :  Idul Fitri dan Kemanusiaan Lintas Iman

Resistensi ini sering kali semakin nyaring, karena ritual panen, sistem ladang berpindah, atau pola kerja sama komunitas yang mereka praktikkan dianggap usang atau tidak relevan.

Mereka merasa, bahwa bahasa dan tradisinya tidak mendapat pemahaman yang memadai. Padahal sinergi yang menguntungkan justru terjadi ketika masing-masing kelompok merasa dimengerti dan dipahami.

Oleh karena itu dibutuhkan apa yang dinamakan dialog sejati, bukan sekadar konsultasi simbolis. Pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat direalisasikan lewat dialog sejati ini.

Berita Terkait

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung
Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Berita ini 168 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:46 WITA

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:58 WITA

Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan

Berita Terbaru