Membangun Ruang Kolaborasi untuk Pembangunan yang Berkelanjutan
Festival Pangan Lokal dan Budaya di NTT dapat menjadi ruang kolaborasi untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Hal ini dapat terwujud kalau dalam festival ini, petani dan komunitas adat tidak sekadar dijadikan objek pembangunan, tetapi subjek yang memiliki hak suara atas dasar sejarah dan identitasnya.
Ketika tradisi pangan lokal, ritual panen, dan praktik pertanian yang telah berlangsung berabad-abad lamanya diangkat sebagai entitas budaya yang sarat makna, saat itulah masyarakat lokal dapat merasakan rahmat subjektivitasnya.
Berkah subjektivitas ini dialami juga ketika mereka dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dalam ranah partisipatif yang berbeda. Saat mereka dilibatkan, rasa memiliki hasil pembangunan itu semakin kuat, sehingga komitmennya pun dapat diperhitungkan untuk keberlanjutan pembangunan jangka panjang.
Hal ini dapat dipahami, karena ketika masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan, mereka akan lebih cenderung untuk menjaga dan mengembangkan apa yang telah mereka raih serta lebih tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.
Akhirnya, festival ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang kekuatan. Keberhasilan lahir dari kemampuan kita mendengar, memahami, dan berbicara dalam bahasa orang lain—bahasa yang dibentuk oleh sejarah, tradisi, dan pengalaman.
Saat kita duduk di meja yang sama, merayakan keberagaman rasa dan budaya, kita belajar satu hal yang penting: siapa pun yang kita anggap lawan hari ini, bisa menjadi mitra sejati esok hari, jika kita berani memahami dan berbicara dalam bahasanya.
Penulis adalah Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman)










