Lalu menelepon orang-orang untuk curhat bahwa laporan ke polisi itu tidak serius dan hanya modus bertemu penulis untuk “omong baik-baik semua ini.” Semua ada rekaman pembicaraan. Otak mafia itu anggap semua orang itu sama: bisa dipanggil ke Polres Nagekeo, diperiksa, ditekan, diteror, lalu diajak berdamai.
Saya menolak untuk mengikuti pola usang yang selalu dimainkan institusi Polres Nagekeo di bawah komando Mantan Kapolres Yudha Pranata dan Kabag Ops Serfolus Tegu: setor kebodohan di depan publik. Saya hormati hukum tapi harus benar, adil, berintegritas, memulikan HAM dan tidak merepresi akal sehat.
Nagekeo dan Cengkeraman Mafia
Saya menulis dengan tanda tanya bahwa Nagekeo memang dalam cengkeraman mafia yang melibatkan oknum polisi, oknum pengacara, oknum pengusaha, oknum wartawan (termasuk wartawan yang bekerja di media online yang terdaftar di Dewan Pers), oknum masyarakat yang dinobatkan sebagai tokoh dan tuan tanah palsu. Jaringan mafia ini merasa sangat kuat karena didukung orang kuat Jakarta.
Menurut kesaksian para jurnalis dan warga Mbay khusus terdampak waduk Lambo, AKP Serfolus Tegu memang selalu membawa-bawa nama orang dari Jakarta ketika menjalankan terjangan mafianya di waduk Lambo. Orang yang kerjanya hanya membawa-bawa nama “orang kuat” sesungguhnya sangat-sangat lemah sehingga mencari tameng untuk menutupi ketidakmampuannya. Terkait “orang kuat dari Jakarta” banyak orang yang “kepanasan.”
Saya duga, orang-orang yang “kepanasan” itu bukan orang kuat tapi orang lemah juga yang mungkin saja selama ini banyak memuja-muja orang kuat. Pertanyaan sederhana: kalau Anda bukan “orang kuat” mengapa tersinggung?
Laporan terhadap saya oleh AKP Serfolus Tegu lewat kuasa hukumnya yang berambut gondrong, sarat benturan kepentingan. AKP Serfolus Tegu diduga kuat terlibat banyak skandal di Nagekeo. Laporan itu patut diduga sebagai upaya membungkam saya untuk menyampaikan kebenaran. Ia diduga tidak mau boroknya terkuak ke publik dan keterlibatannya sebagai otak mafia di bibir waduk Lambo yang mencoreng institusi Polri terbongkar.
Salah satu oknum pengacara, anggota KH Destroyer, bagian dari jaringan mafia,sangat aktif meneror orang Nagekeo yang kritis, termasuk saya, lewat narasi di WhatsApp dan media sosial lain. Ia mengancam membawa saya dan sejumlah orang kritis, pembela kebenaran, ke Mabes Polri.
Jaringan ini kuat karena merasa mendapat dukungan dari orang berpengaruh di Jakarta. Mereka berlindung di balik institusi, bahkan menjadikan aparat hukum sebagai perisai untuk menutupi kejahatan.
Karena itulah, ketika saya menulis artikel berjudul “Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo” (20 Oktober 2025, di Florespos.net), mereka bereaksi keras. Tulisan itu dinilai “berbahaya” karena membuka borok yang selama ini tertutup.










