“Mempertanyakan posisi moral Pater Mill” bukan sekadar koreksi atas sebuah tulisan. Ia adalah ajakan kembali ke jantung imamat-menjadi penjaga nurani, pelita kebenaran, dan sahabat luka bagi mereka yang paling lemah. Kritik mestinya dijawab dengan kasih, bukan kemarahan.
Perbedaan mestinya dituntun oleh fakta dan iman, bukan oleh serangan pribadi. Dan tulisan seorang imam—pada akhirnya—seharusnya menjadi doa yang menyembuhkan, bukan pedang yang melukai.
Terakhir tapi tidak berarti tidak penting. Pater Mill-di media sosial ada yang bertanya: ini nama orang atau miliar-maaf itu guyonan saja.
Saya adalah pastor SVD yang berprofesi sebagai jurnalis, penulis dan aktivis gerakan literasi. Saya tidak dipecat atau dikeluarkan dari tarekat. Saya selalu berusaha mengambil jalan dan pilihan rasional dalam hidup. Pater bisa bertanya kepada pimpinan saya.
Ketimbang berkoar penuh kebanggaan (semu) karena menyerang pribadi. Saya tidak akan pernah berhenti menulis untuk kebaikan dan kebenaran publik hanya karena pribadi saya diserang, diteror, dikriminalisasi, dimaki bahkan dibunuh sekali pun. Tulisan saya pun tidak membawa-bawa nama tarekat Pasionis.
Saya sangat menghormati tarekat Pasionis karena kakak saya adalah imam Pasionis. Saya juga tidak berniat mencari-cari kesalahan pribadi Pater Mill untuk dipublikasikan di media (sosial).
Bahkan kalau saya tahu “masa lalu” Pater pun, saya akan menyimpannya dalam hati dan mendoakan. Kalau saya berkata bahwa saya menghormati tarekat Pasionis tapi pada saat yang sama saya menyerang pribadi anggota tarekat Pasionis, pertanyaan sederhana: apakah saya masih memiliki kesadaran, kewarasan dan rasa kemanusiaan? Masih pantaskah saya disebut manusia?
Saya menulis opini dengan rasa hormat kepada orang-orang kecil di Rendu khususnya dan Nagekeo umumnya yang diperlakukan tidak adil, kasar dan sangat melukai rasa kemanusiaan.
Orang-orang kecil itu adalah umat paroki yang Pater Mill layani. Apalagi saya seorang pastor yang harus selalu gelisah dan digelisahkan oleh derita dan air mata orang-orang kecil yang menjadi korban mafia yang buas dan serakah. Kalau saya sebagai pastor bungkam di hadapan air mata umat saya-tanpa diberi sekat primordial-imamat saya harus dipertanyakan.
Kita bisa berbeda pendapat tapi harus tetap saling menghormati. Pater Mill, jangan panik! Salam ke Pastoran Jawakisa! *
Jurnalis, Penulis Buku dan Pendiri Oring Literasi Siloam Lembata.










