Maka terjadilah keributan antara DPRD dan kelompok Dus Wedo hingga DPRD dikatai “RDP Kucing-kucingan” serta rekomendasi DPRD adalah rekomendasi sampah. Memang, mafia tetap malaikat bagi mafia! Tidak pernah ada mafia di depan mata mafia!
Rakyat Nagekeo juga tidak tahu, apakah bupati dan wakil bupati memahami permainan para mafia ini. Bupati dan wakil bupati mesti membela rakyat dalam kasus-kasus yang dialami rakyat kecil ini.
Ketika bupati dan wakil bupati sebagai pemimpin rakyat diam dan bungkam di hadapan gerakan mafia waduk Lambo yang merampok dan merampas hak rakyat dengan kasar, jahat dan tidak berperikemanusiaan, rakyat bisa menafsirkan hal itu.
Fakta-fakta apatisme pemimpin Nagekeo terhadap persoalan riil rakyatnya ini mesti mencerdaskan rakyat untuk beralih kepada pemimpin yang peka dan peduli persoalan rakyat.
Dugaan mafia waduk Lambo tidak bisa disepelekan begitu saja! Air mata orang kecil yang terus mengalir bisa menjadi bandang politik yang menenggelamkan jejak sang pemimpin. Segala sesuatu ada waktunya! *
Jurnalis, Penulis Buku dan Pendiri Oring Literasi Siloam Lembata.













