Rakyat kecil seperti suku Redu, Isa dan Gaja memang hidup di kampung dan mengolah alam yang Tuhan beri dengan polos dan jujur. Kehadiran waduk Lambo diharapkan membawa dampak positif bagi hidup mereka hari ini dan prospek cerah masa depan anak-anaknya.
Ternyata waduk Lambo sebagai proyek strategis nasional menjadi malapetaka bagi pemilik tanah, orang-orang kecil dan sederhana. Yang kenyang adalah gerombolan mafia yang berpesta pora di bibir waduk Lambo. Hingga detik ini, air belum mengalir di waduk Lambo tapi air mata warga pemilik tanah telah tumpah. Pembangunan hanya memperbesar perut gerombolan mafia.
Rakyat Nagekeo harus lebih peka dan terbangun kesadarannya untuk melawan kekuatan mafia waduk Lambo yang telah lama memanfaatkan kelemahan dan keterbatasan rakyat kecil untuk meraup keuntungan bagi perutnya sendiri. Fakta ini benar-benar terjadi di Kabupaten Nagekeo.
Publik Nagekeo, terutama kelompok kritis, seperti para pastor dan aktivis kemanusiaan, harus membangun sinergi untuk menjaga agar tubuh Nagekeo jangan lagi dikotori kotoran gerombolan mafia yang dilepas di bibir waduk Lambo.
Aroma kotoran mafia itu telah tercium oleh ketua suku Redu, Isa dan Gaja sehingga mereka tetap teguh bertahan menghadapi gelombang permainan mafioso waduk Lambo yang semakin tergerus keberadaannya karena dikuliti hingga ke sumsum yang keropos.
Rekan-rekan jurnalis yang setia bergerak di jalur etika dan moralitas harus bersatu untuk melawan kebuasan gerombolan mafia yang bisa menelan dan melumat siapa pun tanpa rasa kemanusiaan. Uang milik orang-orang kecil suku Redu, Isa dan Gaja saja hampir dirampok secara licik dengan memanfaatkan anggota gerombolan KH Destroyer, Dus Wedo.
Jika rakyat Nagekeo diam, apalagi bungkam di hadapan gerakan mafia waduk Lambo, suatu waktu mereka akan bergerak lebih kasar untuk melumat dam menelan siapa pun tanpa ampun. Mafia itu kalau tidak dilawan akan semakin beringas dam kalap.
Tapi ketika dilawan secara rasional, mafia akan mengendorkan gerakannya dan perlahan menghilang dari Nagekeo. Apalagi kalau uang sebesar 22,4 miliar tidak didapat maka bubarlah pesta pora para mafia di bibir waduk Lambo.
Kita berharap agar Gereja di Rendu tidak terkena getah kegagalan total gerombolan mafia yang dikomandani Dus Wedo dan pembangunan gereja berjalan kembali.
Saatnya juga Gereja berbenah agar tidak menjadi tameng mafioso yang sangat melukai nurani rakyat kecil suku Redu, Isa dan Gaja yang hak-haknya hendak dirampas oleh Wunibaldus Wedo, yang namanya selalu disebut dan diintensikan dalam misa oleh pastor paroki. Syukur kalau intensinya untuk pertobatan. Tapi jika intensinya agar berhasil merampok hak-hak rakyat Redu, Isa dan Gaja? Walahualam!










