Mafia Tanah Waduk Lambo
Waduk Lambo memang “surga” bagi gerombolan mafia di Kabupaten Nagekeo. Para mafioso terbelalak matanya melihat aliran uang bernilai triliunan yang mengalir dari proyek strategis nasional itu.
Presiden Jokowi mungkin tidak pernah membayangkan bahwa waduk Lambo akan menjadi arena gerakan liar para mafia yang berjejaring mengejar bayang-bayang sendiri untuk memungut remah-remah uang yang hendak mengalir ke tangan rakyat pemilik sah tanah ulayat.
Wapres Gibran yang beberapa waktu lalu mengunjungi waduk Lambo pasti tidak akan diberitahu oleh siapa pun, apalagi oleh gerombolan mafioso bahwa ada oknum polisi, oknum pengacara, oknum BPN dan “tuan tanah palsu” yang bergerak kepanasan seperti ulat menggelepar mencari celah untuk bisa mendapatkan uang ganti untung.
Suku Redu, Isa dan Gaja hampir saja menjadi korban permainan busuk dari jejaring mafia waduk Lambo yang mengandalkan “tuan tanah palsu” alias “tuan tanah dadakan” yang tentu saja didukung oknum Polres Nagekeo, oknum pengacara dan oknum BPN.
Begitu mendengar ada uang sebesar Rp22,4 miliar akan diterima ketiga suku itu, permainan mulai dirancang dengan memakai jasa Wunibaldus Wedo. Orang ini sangat percaya diri karena didukung oleh pembeking mafia yang menguasai jalur hukum dan birokrasi pembayaran hak rakyat.
Maka dibangunlah kesepakatan dalam pertemuan di kantor BPN Nagekeo, 27 Mei 2025 yang katanya dihadiri wakil suku Redu, Isa dan Gaja (Flobamora-Newa.com (6/10/2025). Herannya, Polres Nagekeo hadir. Memang ada uang di balik batu. Kalau tidak ada uang, mana polisi mau hadir?
Wedo sangat percaya diri bahwa dia dipercaya menerima aliran dana itu ke rekeningnya. Tentu saja, Wedo dan gerombolan mafia menarik napas. Ada harapan. Tapi harapan itu pupus ketika ketiga suku keberatan atas kesepakatan itu. Pihak yang terlibat dalam kesepakatan pun menarik kembali kesepakatan.
Dus Wedo dan gerombolan mafia gigit jari, mungkin gigit lidah juga. Uang sebesar 22,4 miliar kandas. Gerakan busuk mafia waduk Lambo terendus. Dus Wedo dalam berita Flobamora-News.com (6/10/2025) tampil perkasa dengan topi hitam dengan lambang KH Destroyer: huruf kapital K dan H mengapit pisau dengan ujung tajam mengarah ke atas.
Sementara topi samping kiri tertulis: Destro. Inilah penampilan dalam balutan gaya gerombolan KH Destroyer yang merupakan anak buah dari mantan Kapolres Nagekeo Yudha Pranata.
Mengapa suku Redu, Isa dan Gaja tidak lagi memercayai Wunibaldus Wedo? Para ketua suku bukan anak bawang yang tidak pernah membaca gerakan “tuan tanah palsu” yang tentu diduga kuat dibekingi oleh kelompok mafia yang selama ini kerjanya hanya meneror dan menakut-nakuti warga agar bisa mendapatkan uang yang menjadi hak asli pemilik tanah.










