Melalui bahasa Indonesia, kami menyuarakan harapan, membangun dialog, dan merawat kebersamaan demi masa depan Indonesia yang damai dan berkeadilan.
Rumusan ini bukan sekadar kata. Ia adalah identitas. Ia adalah spirit. Ia adalah ikhtiar hati dan budi.
Dalam dokumen Human Fraternity yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, kedua tokoh ini menegaskan bahwa keragaman adalah kehendak Tuhan.
Pluralisme dan keragaman agama, warna kulit, jenis kelamin, ras, dan bahasa adalah kehendak Ilahi. Melaluinya Tuhan menciptakan umat manusia.
Tokoh Islam lainnya, Tariq Ramadan, menyatakan bahwa identitas bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan pengertian.
Ia menolak eksklusivisme. Ia menyerukan inklusivitas. Ia mengajak umat untuk hidup bersama dalam damai.
Turnamen futsal ini adalah ‘sebuah jembatan’. Ia menghubungkan tim-tim dengan pelbagai karakternya. Ia menyatukan pemuda dari berbagai latar. Ia menghidupkan semangat Sumpah Pemuda dalam bentuk yang baru.
Indonesia tidak satu wajah. Tapi Indonesia satu jiwa. Jiwa yang menjunjung persatuan. Jiwa yang merayakan perbedaan. Jiwa yang membangun masa depan bersama.
Turnamen ini adalah ‘bukti’. Bahwasanya, olahraga bisa menjadi ruang kebangsaan. Bahwa pemuda bisa menjadi pelopor perdamaian.
Bahwa Sumpah Pemuda tetap hidup. Dalam semangat. Dalam tindakan. Dalam ikrar baru yang menyatukan kita semua.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










