Futsal Ekasapta, Sumpah Pemuda dan Seribu Wajah Indonesia - FloresPos Net - Page 3

Futsal Ekasapta, Sumpah Pemuda dan Seribu Wajah Indonesia

- Jurnalis

Senin, 6 Oktober 2025 - 08:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Melalui bahasa Indonesia, kami menyuarakan harapan, membangun dialog, dan merawat kebersamaan demi masa depan Indonesia yang damai dan berkeadilan.

Rumusan ini bukan sekadar kata. Ia adalah identitas. Ia adalah spirit. Ia adalah ikhtiar hati dan budi.

Dalam dokumen Human Fraternity yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, kedua tokoh ini menegaskan bahwa keragaman adalah kehendak Tuhan.

Pluralisme dan keragaman agama, warna kulit, jenis kelamin, ras, dan bahasa adalah kehendak Ilahi. Melaluinya Tuhan menciptakan umat manusia.

Baca Juga :  NTT Wajib Waspada!

Tokoh Islam lainnya, Tariq Ramadan, menyatakan bahwa identitas bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan pengertian.

Ia menolak eksklusivisme. Ia menyerukan inklusivitas. Ia mengajak umat untuk hidup bersama dalam damai.

Turnamen futsal ini adalah ‘sebuah jembatan’. Ia menghubungkan tim-tim dengan pelbagai karakternya. Ia menyatukan pemuda dari berbagai latar. Ia menghidupkan semangat Sumpah Pemuda dalam bentuk yang baru.

Baca Juga :  Putusan MK No. 90 Tentang Batas Usia Minimal Capres-Cawapres "Batal Demi Hukum"

Indonesia tidak satu wajah. Tapi Indonesia satu jiwa. Jiwa yang menjunjung persatuan. Jiwa yang merayakan perbedaan. Jiwa yang membangun masa depan bersama.

Turnamen ini adalah ‘bukti’. Bahwasanya, olahraga bisa menjadi ruang kebangsaan. Bahwa pemuda bisa menjadi pelopor perdamaian.

Bahwa Sumpah Pemuda tetap hidup. Dalam semangat. Dalam tindakan. Dalam ikrar baru yang menyatukan kita semua.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Berita ini 409 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:05 WITA