Futsal Ekasapta, Sumpah Pemuda dan Seribu Wajah Indonesia - FloresPos Net - Page 2

Futsal Ekasapta, Sumpah Pemuda dan Seribu Wajah Indonesia

- Jurnalis

Senin, 6 Oktober 2025 - 08:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kini, zaman telah berubah. Indonesia kini berwajah seribu. Ia multikultur. Ia plural. Ia integral.

Dalam spirit Futsal Ekasapta, marilah kita pekikan ‘sumpah kita’. Bukan untuk mengganti yang telah dikumandangkan 1928 silam, tapi untuk menghidupkan kembali spiritnya.

Kami putera dan puteri Flores Timur dan Lembata, mengaku berbangsa seribu wajah, tanah Nusa Tenggara Timur yang multikultur.

Kami lahir dari pelbagai latar, suku, dan tradisi, namun bersatu dalam semangat kebangsaan yang menghargai perbedaan sebagai kekayaan.

Baca Juga :  Dari “Luka” Yang Mendera Hingga Pengharapan tentang Migrasi dan Perantauan Bermartabat

Dalam keberagaman itu, kami menemukan jati diri bersama sebagai anak-anak bangsa yang menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian.

Kami putera dan puteri Flores Timur dan Lembata, mengaku bernegara yang integral, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kami percaya bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah geografis, melainkan rumah bersama yang dibangun di atas semangat gotong royong, keadilan, dan kesetaraan.

Baca Juga :  Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah

Dalam bingkai NKRI, kami berkomitmen menjaga persatuan dan memperkuat solidaritas lintas daerah dan generasi.

Kami putera dan puteri Flores Timur dan Lembata, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia yang mengumpulkan semua kami sebagai satu keluarga yang harmonis dengan segala perbedaan kami.

Bahasa ini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol pemersatu yang melampaui batas-batas budaya dan wilayah.

Berita Terkait

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Berita ini 409 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:05 WITA