Pater Niko “Konok” Strawn SVD Persembahkan Diri Hingga Titik Batas (Catatan di Usia 91 Tahun) - FloresPos Net - Page 3

Pater Niko “Konok” Strawn SVD Persembahkan Diri Hingga Titik Batas (Catatan di Usia 91 Tahun)

- Jurnalis

Kamis, 25 September 2025 - 09:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Steph Tupeng Witin

Steph Tupeng Witin

Rombongan meninggalkan Pelabuhan Laut San Fransisko Amerika Serikat pada 20 Oktober 1963. Ia diterima dengan hangat oleh Pater Yosef Diaz Vera SVD. Setelah beberapa hari di Soverdi Jakarta,

Pater Niko berpindah ke Surabaya dalam rangka persiapan menuju Ende Flores. Pada 12 Desember 1963 ia bertolak dari Surabaya menuju Ende, Fores dengan kapal Stella Maris.

Dalam perjalanan dari Surabaya mendekati Madura, musibah kebakaran terjadi di bagian bagasi kapal. Seorang karyawan kapal yang marah karena ditegur oleh pimpinan kapal berhubung ia tidak menyusun barang-barang dalam bagasi dengan baik, merasa terhina dan menyulut api secara diam-diam untuk membakar karung-karung kosong yang siap untuk mengisi kopi Hokeng.

Ada tiga misionaris SVD dalam kapal itu yaitu Pater Niko Strawn SVD, Pater Marianus Krol SVD dan Pater Frans Lachner SVD. Ada 6 suster, tiga suster SSpS dan tiga CIJ.

Baca Juga :  Nagekeo dalam Cengkeraman Mafia?

Penumpang lain sekitar 30 orang ditambah para awak kapal. Para awak dan penumpang panik karena banyak barang terbakar. Sejumlah awak kapal bersama kapten melarikan diri dengan motor boat. Tapi api berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa. Kapal berhasil dikendalikan oleh stirman satu bernama Kapten Sina.

Kapal diarahkan ke Madura untuk beristirahat sambil menunggu bala bantuan dari kapal lain untuk menarik kapal malang itu ke Surabaya untuk diperbaiki. Kapal akhirnya ditarik kembali ke Surabaya.

Pengalaman pahit yang membekas di hati Pater Niko adalah pada musibah kebakaran kapal itu, ada 16 peti perjalanan misi perdana terpaksa dibuang ke dalam laut. Enam belas peti bekal itu berisi buku-buku, pakaian, obat-obatan dan barang-barang lainnya.

Baca Juga :  Rutan Bajawa Komit Membangun Zona Integritas

Di atas 16 peti itu Mama Loretta, ibu Pater Niko menempel telapak tangannya sebagai tanda cinta dan dukungan terhadap karya misi anaknya Pater Niko.

Pada 28 Desember 1963 Pater Niko bertolak kembali dari Surabaya menuju Ende dengan Kapal Stella Maris setelah dinyatakan layak beroperasi lagi pasca musibah kebakaran di dekat Madura itu.

Tiga hari perjalanan menelusuri rantai-rantai Sunda Kecil, Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa, Flores dan Timor. Pada 31 Desember 1963, Kapal Stella Maris bersandar di Pelabuhan Ende.

Berita Terkait

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)
Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo
Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis
Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia
Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)
Polemik, Kronologi 14 Bidang Tanah dan Terempasnya Dus Wedo
Mempertanyakan Posisi Moral Pater Mill (Catatan Sekenanya Saja untuk Tulisan di Media Luar Jangkauan)
Rakyat Nagekeo Harus Tolak Bungkam (Dukungan untuk Suku Redu, Isa dan Gaja)
Berita ini 554 kali dibaca
Redaksi: Ikuti terus "ORING" setiap Senin dan Kamis dalam sepekan. Hanya di Florespos.net

Berita Terkait

Senin, 3 November 2025 - 18:05 WITA

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)

Kamis, 30 Oktober 2025 - 15:23 WITA

Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:55 WITA

Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 13:18 WITA

Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:55 WITA

Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)

Berita Terbaru