Ziarah berkuda dari Kalikasa menuju Lerek seperti kunjungan (tourne) perdana Pater Niko ke tengah umat dalam deretan stasi sepanjang jalan. Pater Laurens dan Pater Niko beristirahat semalam di Stasi Atalojo sambil menikmati suguhan nasi, daging ayam dan sedikit sayur buah papaya teriris dengan beberapa gelas tuak (minuman lokal) dari pohon kelapa. Inilah awal sang misionaris mendapatkan julukan dari umat Paroki Lerek dengan sebutan “Niko Konok.”
Konok adalah wadah tempat minum yang terbuat dari tempurung kelapa. Di wilayah Kecamatan Atadei yang meliputi Paroki Lerek dan Kalikasa, orang minum tuak dengan menggunakan konok.
Esok hari, saat mentari telah bercinta dengan bumi Atalojo, tiga ekor kuda yang membawa barang dan dua misionaris SVD bergerak menuju Lerek usai merayakan Ekaristi bersama umat di Atalojo. Lerek itu perkampungan yang terhampar sebagai sebuah lembah ibarat sebuah kuali raksasa dikelilingi Gunung Mauraja, Bukit Hobal, Bala Bewa, Lakaraya, Lagan Genek, Beloboho, Taru Girek dan Ilbul.
Hamparan itu erisi ladang-ladang yang ditumbuhi padi, jagung, ubi, pisang, pohon-pohon kelapa yang menyebabkan lembah itu tampak hijau. Suara anak-anak Lerek yang berteriak “tuan oling” dan orang-orang dewasa yang bergegas menuju ke pastoran adalah ucapan selamat datang kepada misionaris baru yang telah lama dinanti dan dirindukan setelah berakhirnya masa pengabdian Pasto Paroki Lerel, Pater Yohanes Knoor SVD, setelah setahun “kepergian” tragis Pater Henrikus Konradus Beeker SVD di Watuwawer, 19 April 1956.
Gereja Paroki Lerek berpelindung Hati Terkudus Yesus berdiri megah di tengah kampung dengan rumah-rumah dan lumbung-lumbung beratap daun kelapa. Candi gereja menjulang tinggi sambil menatap puncak Gunung Mauraja nan tandus dan runcing seperti penjaga yang setia. Pastoran berdiri tidak jauh dari gereja.
Banyak umat sudah menanti pastor baru. Rumah pastoral Lerek kala itu baru berusia 8 tahun yang selesai dibangun pada tahun 1955, setahun sebelum kematian berdarah di Watuwawer. Rumah ini akan menjadi istana bagi Pater Niko Strawn SVD selama 23 tahun melayani umat Paroki Lerek.
Pater Niko Strawn SVD mengabdi di Paroki Lerek sejak tahun 1964-1986. Pater Niko pernah dibantu oleh Romo Gerardus Muran dan Pater Damasus Kabelen SVD. Setelah berkarya selama 23 tahun di Paroki Lerek, pada tahun 1987, Pater Niko berpindah ke Paroki Boto yang terletak di Kecamatan Nagawutung. Di Paroki Boto ini, Pater Niko melayani umat selama 18 tahun hingga masa pensiun di RS Bukit Lewoleba.
Kini, Tuan Noko “Konok” Strawn SVD melalui waktu akhir hidupnya di atas tempat tidur. Umurya 91 tahun dan usia Imamatnya 63 tahun. Jejak pengabdiannya di tanah Lembata abadi dalam hati umat sederhana di Lerek dan Boto. Proficiat Tuan Niko “Konok” Strawn SVD atas usia yang panjang.
Sebuah rentang waktu persembahan diri yang radikal. Ziarah pelayanan hingga titik batas. Entah kapan itu. Hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti: kasihmu abadi di tanah Lembata dan dibilik hati umat. *
Penulis, Jurnalis, Pendiri Oring Literasi Lembata










