Kedua misionaris asal Amerika Serikat itu menuju Paroki Lerek dengan menunggang kuda. Bagi Pater Niko Strawn, ini pengalaman pertama yang awalnya menggelisahkan tapi akhirnya sangat menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan kisah perjalanan misi.
Hujan lebat memaksa kedua misionaris ini bermalam di Pastoran Lite, satu kampung mungil nan subur yang kini masuk Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo. Pastoran itu hanya berdinding anyaman bambu dengan pintu yang hanya bisa didorong sekali sentakan tangan langsung terbuka lebar.
Malam itu Pater Niko tidur tidak pernah nyenyak di atas sebuah tempat tidur dari bambu sedangan Pater Laurens merebahkan badan di atas meja makan yang pendek sehingga kaki tergantung sepanjang malam. Praktis sepanjang malam mata tidak bisa terpejam dengan sempurna. Pater Niko hanya “terjaga” sepanjang malam dan berharap hari segera siang.
Pagi-pagi buta, umat Lite bergegas dengan sarung melekat di badan datang ke pastoran untuk menyalami kedua misionaris. Mereka tahu bahwa semalam ada dua tamu sangat istimewa yang memasuki kampungnya.
Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan dari Lite dengan melewati Kampung Lewokukung dan Kenale, tempat peristirahatan bagi rakyat yang hendak menuju ke Lewoleba.
Di Kenale, warga Lewokukung dan Belek biasa menjual kelapa muda, tuak putih, ketupat, ikan goreng, ayam goreng, jagung titi, buah-buahan dan sebagainya. Kedua misionaris itu akhirnya tiba di Kalikasa dan disambut Pastor Paroki Kalikasa, Pater Yoseph Scheidler SVD, misionaris asal Jerman.
Kedua misionaris ini beristirahat semalam di pastoran Paroki Kalikasa sambil menikmati udara yang dingin.
Esok pagi, usai merayakan Ekaristi, Pater Niko dan Pater Laurens melanjutkan perjalanan menuju Lerek.
Sepanjang perjalanan dari Kalikasa, Karangora hingga memasuki wilayah administrasi Paroki Lerek, umat berteriak, “tuan oling” (tuan datang) dan “te kar dor!” (ayo kita kejar) sambil berlari mengiringi perjalanan kuda yang membawa kedua misionaris.
Keduanya menyaksikan sepanjang jalan kebun dan ladang petani yang menjadi umatnya yang sederhana tapi bekerja keras di tengah alam yang terkesan kikir untuk tetap bertahan hidup. Rumah-rumah umat tampak begitu sederhana: berdinding bambu anyaman dan beratap daun kelapa atau rumput alang-alang dan berlantai tanah.
Umat berjalan kaki menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari pergi-pulang ladang sambil membawa sayur, ubi, kayu api, makanan kambing dan babi serta ternak lain.










