Buku ini tidak hanya menjadi bunga rampai wacana, tetapi juga peta reflektif yang memandu arah pembinaan calon imam agar tetap berakar pada tradisi, sekaligus terbuka pada perubahan dunia modern.
Buku ini dengan demikian merupakan sebuh legacy – warisan istimewa – kado – yang mesti dimaknai dalam proses pendidikan dan pembinaan di seminari.
Secara konkret, kegiatan pemaknaannya kita lakukan pada hari ini; ada seminar, launching dan bedah buku. Sebuah kegiatan prestisius yang mumpuni, membekas dan memberi makna tersendiri bagi perjalanan lembaga ini.
Harapannya, buku ini menjadi acuan bagi para formator dalam memberikan materi pembinaan bagi seminaris. Acuan bagi para seminaris untuk memaknai perjalanan hidupnya di seminari ini.
Buku ini selanjutnya dalam proses kreatif akan menjadi acuan utama dalam pendidikan dan pembinaan di seminari; menjadi bahan konferensi klasikal dan umum, bahan kajian para guru di kelas, bahan bacaan untuk kegiatan meringkas buku dan presentasi bagi para seminaris baik secara pribadi maupun kelompok-kelompok minat.
“Akhirnya, peristiwa hari ini adalah tanda harapan. Sanpio hadir sebagai jantung keuskupan, suluh bagi masyarakat, dan oase bagi bangsa. Melalui karya ini, kita diteguhkan bahwa pendidikan transformatif hanya bisa terwujud dalam kebersamaan, dalam semangat sinodal yang berakar pada Ekaristi. Semoga buku ini menjadi inspirasi, bukan hanya bagi keluarga besar Sanpio, tetapi juga bagi seluruh lembaga pendidikan iman yang rindu melahirkan generasi muda yang tangguh, solider, dan bijaksana.”
Referensi Pendidikan Seminari di Indonesia
Momen Bedah buku dilanjutkan dengan penyampaian gambaran pengerjaan buku, artikel yang dimuat dan latar belakang penulis yang disampaikan oleh Editor buku Dr.Marianus Mantovanny Tapung, S.Fil, M.Pd.
Dr. Mantovanny Tapung antara lain mengemukakan bahwa proses editorial buku yang memakan waktu hampir dua tahun bukan sekadar menyunting 38 manuskrip dari 44 penulis, melainkan upaya mengharmonisasikan beragam perspektif akademik menjadi satu visi kohesif tentang masa depan pendidikan seminari.
“Ketika pertama kali menerima amanah sebagai editor, saya menyadari bahwa buku ini harus menjadi lebih dari dokumentasi yubileum. Bersama tim penyunting, kami merancang struktur "5S" – Sanctitas, Scientia, Sanitas, Sapientia, dan Solidaritas – sebagai kerangka filosofis yang tidak hanya mencerminkan tradisi SANPIO, tetapi juga menjawab tantangan pendidikan abad ke-21,” kata Mantovanny.
Proses kuratorial yang ketat dilakukan untuk memastikan setiap artikel, lanjutnya, berkontribusi pada narasi besar tentang transformasi pendidikan seminari. Kami tidak hanya mencari tulisan berkualitas akademik tinggi, tetapi juga gagasan yang berani, inovatif, dan contextually relevant.
Penulis : Walburgus Abulat
Editor : Anton Harus










