Gery Gobang juga mengakui bahwa Demokrasi Indonesia masih democracy in the making: perlu energi iman dan kebiasaan baru; butuh kolaborasi warga, media, seminaris untuk menciptakan cue yang membentuk habit demokratis; sapientia iman dengan mengarahkan homo sapiens menjadi agen kebijaksanaan publik, bukan sekadar makhluk yang biasa mengikuti kebiasaan buruk lingkungannya.
Sementara Prof. Dr. Gabriel Lele dalam artikelnya Mendidik Seminari, Menyiapkan Demos: Urgensi Penguatan Civic Education antara lain menggarisbawahi pentingnya solidaritas responsife-transformatif dengan cara ikut mendukung terlibat aktif, dan berkontribusi melalui pikiran dan aksi dalam merespons dan mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan.
“Seminaris memainkan peran penting dalam proses sosialisasi, internalisasi dan aktualisasi prinsip solidaritas, dan dimulainya dengan rancang bangun kurikulum: substansi, metode/proses dan dukungan lingkungan pembelajaran,” pinta Prof Gabriel Lele.
Masukan dan Catatan Kritis
Jalannya bedah buku semakin memberi warna intelektual dan selaras zaman ketika tiga siswa Sanpio yakni Stanis Milo, Agustinus Nera Nai dan Stefan menyampaikan beberapa catatan kritis dan masukan di antaranya terminologi revolusi dan evolusi di bidang pendidikan, fakta seputar kemiskinan dan pastoral praktis penanganan, dan biaya pendidikan di Seminari/sekolah katolik yang terbilang mahal.
Diskusi semakin mendapatkan kepenuhannya karena salah seorang alumni Sanpio yang saat ini menjadi anggota DPR RI. Dr. Benny Kabur Harman mengsharingkan pengalamannya seputar pendidikan seminar di eranya yang menekankan tiga hal penting yakni kedisplinan, ilmu pengetahuan/logika berpikir, dan spiritualitas.
Benny K. Harman pada kesempatan ini juga menawarkan/berharap agar ke depan lembaga pendidikan Seminari juga menerima siswa yang tidak saja untuk calon imam tetapi juga untuk calon awam yang berkualitas.
Pelbagai pertanyaan dari tiga siswa dan masukan dari Benny K. Harman ditanggapi secara positif dan diapresiasi oleh Editor Buku RD. Mantovanny Tapung, RD. Agustinus M. Habur, Fransiska Widyawati, Prof. Gabriel Lele, Yonas K.G.D. Gobang, dan Romanus Ndau.
Ketua Tim penyusunan Renstra Seminari Kisol yang juga Dosen Unika Santo Paulus Ruteng, Dr. Maksimilianus Jemali di hadapan peserta seminar dan bedan buku menyampaikan beberapa langkah konkret yang tim sudah, sedang dan akan terus lakukan guna guna mewujudkan komitmen bersama Sanpio Go Synodal: Revolusi Pendidikan Melalui Spiritualitas Ekaristi Transformatif.
Terima Kasih
Ketua Panitia RD. Dionisius Labur atau yang akrab disapa Romo Dionne dalam sambutannya antara lain menyampaikan terima kasih kepada para pihak di antaranya Gubernur NTT, Praeses Seminari Kisol, Editor Buku Dr. Marianus Mantovanny Tapung, para pengulas buku/bedah, para penulis artikel atas refleksi dan sumbangan pemikirannya sehingga menjadi cermin dan obor bagi kam yang berkarya di Lembaga Pendidikan ini, para undangan dan alumni yang hadir dalam acara bedah buku hari ini.
“Kami berharap setelah mendengarkan ulasan tentang isi buku ini, akan terdorong untuk memilikinya dan membacanya demi menemukan mutiara-mutiara berharga dari pemikiran brilliant dari para penulis hebat di dalamnya; para siswa seminari dan sekolah mitra yang telah hadir dalam kegiatan ini, kiranya pengalaman hari ini menjadi motivasi bagi kalian untuk belajar sungguh-sungguh meraih cita-cita hidup, entah sebagai imam atau sebagai awam yang hebat seperti beberapa pembicara yang kita dengarkan sebentar,” kata Dionne.
Penulis : Walburgus Abulat
Editor : Anton Harus










