Manfred Habur meminta semua elemen warga, khususnya para seminaris dan alumni Seminari Sanpio untuk terus menyalakan api spiritualitas ekaristi dalam keseharian.
“Maka, membiarkan api spiritualitas ekaristi terus menyala adalah tugas kita bersama agar arah strategis Sanpio ke depan tidak hanya rasional dan modern, tetapi benar-benar evangelis dan kudus. Inilah warisan sejati bagi 70 tahun Sanpio dan bekal menuju berikutnya,” kata RD. Manfred Habur.
Pembedah kedua, Dosen UNIKA St. Paulus Ruteng Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum yang membedah tentang Scientia (Formasi Berkelanjutan dan Pendidikan Abad).
Fransiska Widyawati menggarisbawahi pentingnya strategi pendidikan di Seminari Sanpio ke depannya untuk tidak saja mengakomodir bagi siswa calon imam saja, tetapi juga harus terbuka untuk para calon awam dengan penekanan pada science, technology, engeneering, dan Mathematics (STEM).
Ia optimistis bahwa dengan ada ruang awam untuk mengenyam pendidikan di Seminari dan menerapkan sistem STEM di atas maka Seminari ke depannya akan menghasilkan ahli-ahli di bidangnya untuk Indonesia.
“Kita berharap agar menghasilakn banyak ahli dari Seminari untuk Indonesia,” katanya.
Selanjutnya, Praktisi-Wakil Alumni Sanpio Romanus Ndau, S.S., M.Si membedah terkait Sanitas (Kesehatan Holistik dan Kesadaran Mental). Romanus Ndau pada kesempatan ini menggarisbawahi penting agar para seminaris dan tamatan seminari memiliki tiga keunggulan di bidang knowledge, skill, dan attitude yang baik.
Sementara Rektor UNIPA Maumere Dr. Jonas K.G.D. Gobang, S.Fil.,MA membedah tentang Sapientia (Kepemimpinan Partisipatif-Transformatif dan Pastoral Kontekstual).
Jonas KGD Gobang dalam materinya berjudul “Demokrasi yang Sedang Menjadi di Indonesia” dan menjelaskan tema Sapientia antara lain pentingnya keterlibatan publik dalam berdemokrasi. Menurut Rektor Unipa Maumere ini, tanpa keterlibatan publik yang aktif, demokrasi hanya akan menjadi slogan tanpa substansi.
Gery Gobang juga menyebut ti beberapa implikasi pastoral terlibat di mana para seminaris mesti menjadi garam dan terang di ruang publik, menggunakan media untuk menggunakan media untuk menciptakan cue sosial baru yang memicu habit kritis, jujur, demokratis demi bonum commune; pastoral bukan haya liturgi, tetapi juga intervensi sosial komunikatif.
Penulis : Walburgus Abulat
Editor : Anton Harus










