Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
INDONESIA, sedang bermimpi besar: menjadi negara maju di tahun 2045. Visi Indonesia Emas digemakan di berbagai ruang. Tapi di balik gemerlap harapan itu, ada suara lirih yang tak boleh diabaikan: Indonesia Cemas.
Kecemasan itu nyata. Ketimpangan sosial makin lebar. Alam terus dieksploitasi. Dunia pendidikan dibilang kehilangan arah. Politik terbelah. Teknologi berkembang, tapi etika publik tertinggal. Generasi muda tumbuh dalam dunia yang cepat, tapi sering kali hampa makna.
Visi Indonesia Emas 2045 memang menggugah semangat nasionalisme dan optimisme. Ia menjanjikan kemajuan ekonomi, kematangan demokrasi, dan peran strategis Indonesia di panggung global. Namun, mimpi besar ini tak bisa berdiri sendiri tanpa fondasi sosial yang kokoh dan kesadaran budaya yang mendalam.
Ketika pembangunan hanya diukur lewat angka dan infrastruktur, kita berisiko kehilangan dimensi kemanusiaan yang justru menjadi inti dari peradaban. Indonesia Emas bukan sekadar soal GDP dan teknologi, melainkan tentang bagaimana bangsa ini mampu merawat martabat manusia, keadilan sosial, dan keberlanjutan hidup.
Di sinilah Indonesia Cemas menjadi cermin yang jujur. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tanpa arah bisa menjadi bumerang. Ketimpangan yang dibiarkan akan melahirkan frustrasi sosial. Eksploitasi alam tanpa etika akan merusak generasi mendatang. Pendidikan yang kehilangan jiwa akan mencetak manusia yang cerdas tapi tak peduli.
Politik yang terbelah akan melemahkan solidaritas nasional. Dan, teknologi tanpa nilai akan menciptakan generasi yang terhubung secara digital, tapi terputus secara emosional. Namun, kecemasan ini bukan untuk ditakuti, melainkan untuk direnungi agar mimpi Indonesia Emas benar-benar menjadi milik semua, bukan hanya milik segelintir.
Di tengah kegelisahan itu, Festival Uto Wata di Desa Blepanawa, Flores Timur, hadir sebagai napas segar. Bukan sekadar pesta budaya, tapi pernyataan sosial yang kuat. Lewat tema “Tonu Uto Wata Wuyo Hadun Horet”, masyarakat Lamaholot menghidupkan kembali narasi leluhur, ritual adat, dan komitmen ekologis.
Di titik ini, festival Uto Wata menjadi ruang simbolik. Di dalamnya, masyarakat Lamaholot menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan hidup yang relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Melalui ritus air dan penghormatan terhadap tokoh leluhur Uto Wata, warga Blepanawa menyampaikan pesan bahwa akses terhadap sumber daya alam harus dilandasi oleh nilai spiritual, etika komunal, dan tanggung jawab ekologis.
Tema “Tonu Uto Wata Wuyo Hadun Horet” bukan hanya menghidupkan ingatan kolektif akan kisah tempo dulu, melainkan juga mengajak generasi muda untuk melihat ritual sebagai ruang pembelajaran, refleksi, dan pembaruan sosial.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










