Ia menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari rencana Tuhan untuk menumbuhkan harapan dan iman, dan bahwa formasi tetap berjalan sebagai perjalanan spiritual menuju kesadaran akan cinta Tuhan yang abadi.
Sementara itu, artikel Ricardo Rosario Taran Ujan menghadirkan refleksi seorang alumni yang menamatkan formasinya di tengah erupsi Lewotobi, perubahan kurikulum, dan relokasi darurat ke Saron.
Dengan narasi yang mendalam, ia menegaskan bahwa formasi bukan soal durasi, melainkan intensitas pembinaan dan pengalaman batin yang membentuk pribadi utuh dalam pelukan realitas dan rahmat.
Dalam kesaksiannya sebagai guru di SESADO, Katarina Cicih Karnengsih mengungkapkan bagaimana lembaga ini tak henti-hentinya menyemai benih perubahan melalui pembenahan sistem, penguatan pola hidup bersama, dan pelayanan yang tulus ikhlas.
Dari proses refleksi kolektif yang penuh ketekunan, SESADO menjelma menjadi taman harapan yang merangkul setiap jiwa muda dan menuntunnya bertumbuh dalam terang nilai-nilai Kristiani dengan iman yang mengakar, ilmu yang mencerahkan, dan kasih yang mengalir sebagai daya hidup masa depan Gereja dan bangsa.
Sementara itu, Fr. Yohan Mataubana merefleksikan panggilannya sebagai frater TOP di Seminari San Dominggo Hokeng seperti perahu Petrus yang sempat kosong namun dipenuhi mukjizat karena ketaatan pada Sabda.
SESADO baginya bukan sekadar tempat praktik, tetapi rahim kehidupan yang membentuk dan menyalakan semangat misioner yang total dan penuh kasih.
Dan melalui artikelnya, Pater Yakobus Umbu Warata, C.Ss.R menggarisbawahi peran istimewa Seminari San Dominggo Hokeng dalam 75 tahun perjalanan panggilan dan formasi.
Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, SESADO adalah tanah subur tempat benih iman dan karakter ditanam, dipupuk dengan nilai sanctitas, scientia, sanitas, sapientia, dan solidaritas.
Dari sana lahir pribadi-pribadi yang siap melayani Gereja Lokal dan Universal, membawa terang di tengah dunia dan menghadirkan penebusan yang berlimpah—copiosa apud Eum redemptio. Bagi Kongregasi Redemptoris Indonesia, SESADO bukan hanya ladang panggilan, tetapi juga sumber harapan yang terus hidup.
Selanjutnya, Pastor FX. Martana menulis bahwa dari bilik pembinaan yang sederhana hingga ladang pengutusan yang luas, SESADO telah menjadi saksi perjalanan iman yang kokoh, membentuk para pelayan Gereja melalui integritas rohani, intelektual, dan pastoral.
Di tengah tantangan zaman, SESADO tetap menjadi oase panggilan, tempat surga menyapa bumi dan harapan tumbuh dalam pelukan waktu dan rahmat.










