LARANTUKA, FLORESPOS.net-Realisasi anggaran program kegiatan Persiapan Sentra Pengembangan Sapi pada Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun anggaran 2025 sudah 40 persen atau sekitar Rp 400-an juta.
“Kami sudah realisasi anggaran pada Desember 2025 lalu 40 persen dari total anggaran Rp1.002.000.000. Masih ada 60 persen. Kami belum realisasikan karena belum PHO,” kata Yosef Arnoldus Pati Hurint, Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) Program Kegiatan Persiapan Sentra Pengembangan Sapi pada Disbunter Flores Timur, Senin (11/5/2025).
Yosef Arnoldus mengatakan, total anggaran untuk kegiatan persiapan sentral pengembangan sapi di Wolo Kolo, Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga sebesar Rp.1.002.000.000.
Anggaran tersebut, menurut Yosef Arnoldus untuk tiga item pekerjaan, yakni pembukaan jalan usaha tani (JUT), menanam dan pengolahan lahan.
Yosef Arnoldus bilang, didalam item menanam terdapat beberapa jenis pekerjaan, yakni pengadaan bibit hijau makanan ternak (HMT), penanaman tanaman pagar, menanam beberapa jenis tanaman HMT dan Harian Orang Kerja (HOK).
“Program kegiatan ini dilakukan dengan sistem swakelola tipe 3, dikerjakan oleh lembaga dalam hal ini LSM Barakat,” katanya sambil menambahkan.
“Prosesnya, Dinas melalui PA melakukan kerjasama atau MoU dengan Lembaga Barakat. Lalu Lembaga Barakat menentukan atau menunjuk Tim Pelaksana yang diketuai oleh Yeremias Hewen. Selanjutnya urusan pelaksana kegiatan dilakukan kontrak kerja antara PPK dengan Tim Pelaksana,” tambah Yosef Arnoldus.
Senada disampaikan Plt. Kepala Disbunter Flores Timur, Vianey Tiki Tokan selaku PA (Pengguna Anggaran), ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/5/2026.
Pantauan Lokasi Wolo Kolo
Sebelumnya saya mencoba menengok lokasi peternakan sapi di Wolo Kolo, Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga.
Saya tidak sendirian. Bersama seorang rekan wartawan pada Jumat (8/5/2026) kami ikut jalur jalan menuju Desa Aransina mulai dari pertigaan Ebak, Desa Bahingga. Jalur jalan ini tampak lebih bagus–beraspal baik hingga pusat Desa Aransina.
Meski jalan tertatih-tatih kami sampai di titik akhir kawasan peternakan. Di sana, kami bertemu sejumlah orang. Mereka adalah pekerja penanaman tanaman pelindung dan pakan atau tanaman HTM untuk sapi.
Seperti disaksikan Florespos.net di kiri dan kanan jalan yang baru dibuka itu tampak bekas ban kendaraan alat berat. Juga ada batang-batang gamal yang sudah ditanam secara berjejer. Ada yang sudah mengeluarkan tunas dan ada pula yang belum bertunas.
Selain itu, ada tanaman lamtoro yang mulai tumbuh, dan batang reo yang sudah ditanam para pekerja. Ada rumput gajah yang tumbuh baik dan ada pula yang layu dan kering. Belum atau bahkan tidak terlihat ada satu ekor sapi pun berada dalam kawasan peternakan tersebut.
“Kami mulai kerja di sini pada awal Desember 2025. Kami kerja tanam ini gamal, reo, lamtoro dan rumput gajah. Gamal dan reo kami taman dipinggir jalan dan pembatas kawasan. Katanya ini untuk pakan sapi sekaligus batas kawasan. Ada lamtoro kami tanam biji seperti tanam jagung,” ungkap Nikolaus Kawelak dan beberapa pekerja lainnya.
“Anakan, biji lamtoro, rumput gajah dan batang gamal ini kami pikul dari jalan utama Aransina. Turun-naik bukit dan lembah yang pak mereka lewat tadi. Masih baik sekarang lagi panas, kalau hujan agak susah, karena licin,” tambah Nikolaus.
Upah Pekerja Belum Dibayar
Nikolaus dan pekerja lainnya bilang, mereka berhenti kerja pada akhir Maret lalu. Mereka tidak kerja lagi karena dalilnya sedang musim panen padi di kebun warga.
“Selain itu juga karena upah kerja kami sejak Desember 2025 sampai Maret 2026 belum dibayar. Kami hanya dijanjikan, dijanjikan dan sampai sekarang ini belum dibayar. Upah kami mulai Desember sampai Maret,” ungkap Nikolaus diamini beberapa rekan pekerja lainnya.
“Upah kami per hari Rp 85.000 khusus untuk yang makan minum bawah sendiri dari rumah. Kami kerja dan bayar upah kerja pakai sistem HOK (hari orang kerja). Sementara makan dan minum disediakan rekanan, upahnya Rp 65.000 per hari. Kami kerja mulai pukul 8.00 dan pulang pukul 16.00 WITA,” kata pekerja lainnya.
Nikolaus dan beberapa pekerja bilang, beberapa waktu lalu mereka didatangi orang dari sebuah yayasan. Pihak yayasan itu meminta mereka untuk melanjutkan pekerja dan tandatangan pernyataan kerja.
“Baru-baru ini ada pegawai dari ‘Barakat’ datang bertemu saya dan meminta kerja lagi dan tandatangani surat. Janji bayarnya tanggal 21 April sebelum PHO. Tapi sampai harinya dan bahkan sampai sekarang tidak ada,” katanya.
Nikolaus dan beberapa pekerja lainnya sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Keseluruhan, jumlah pekerja 80 orang.
“Kami tidak tandatangan surat yang dikasih ‘Barakat’. Kami mau kerja lagi kalau upah kerja yang sebelumnya dibayar,” kata Nikolaus diamini pekerja lainnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Selasa (12/5/2026) pagi, Florespos.net, belum mendapat konfirmasi langsung terkait upah pekerja dan hal lain dari LSM Barakat dan Tim Pelaksana Kegiatan. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










