Sementara itu, Antonius Doni Dihen melihat SESADO sebagai mercusuar harapan di tengah krisis moral, tempat formasi holistik membentuk calon imam sebagai agen transformasi sosial yang berbelarasa dan relevan.
Ignasius Boli Uran menyebutnya sebagai tempat penempaan diri lahirnya pemimpin berjiwa Kristiani yang melayani dengan iman dan membangun dengan cinta.
Dalam bagian ini, Romo Yohanes Hans Monteiro dan Debi Angelina Br. Barus mengajak kita meninjau ulang pendekatan formasi di era Gen-Z, menekankan perlunya transformasi menuju pembinaan yang lebih manusiawi dan adaptif, terutama pasca-erupsi Lewotobi yang menjadi simbol “letusan rahmat.”
Searah dengan itu, tulisan reflektif dari Romo Gius Lolan mengisahkan perjalanan batin dan intelektual SESADO sebagai “Rumah Rahim Kehidupan dan Taman Kegembiraan”, tempat di mana fondasi teologis-biblis, berakar pada Teologi Tempat dan Teologi Sentrum menjadi landasan inovasi pembinaan yang memeluk spiritualitas kasih Allah dan memberdayakan dari dalam.
Melalui pendekatan coaching profesional, yang berfokus pada eksplorasi potensi diri dan transformasi personal secara inside-out, SESADO menghadirkan paradigma pendampingan yang humanis, dinamis, dan menyentuh kedalaman jiwa.
Dengan membaca Kitab Suci sebagai rahim kasih, merangkul coaching sebagai percakapan pembebasan, serta menjadikan inspirasi Kristiani sebagai denyut refleksi, SESADO menegaskan dirinya sebagai ruang formasi yang selaras zaman, tempat kehidupan dan panggilan iman bersemi dalam wajah Allah yang ramah, rahim, dan transformatif.
Pater Markus Solo Kewuta, SVD memandang SESADO sebagai taman interkultural tempat benih panggilan tumbuh dalam harmoni iman, intelektualitas, dan kemanusiaan, komunitas pembelajar yang tetap setia pada misinya meski tempat berpijak berubah.
Romo Philip Ola Daen menegaskan bahwa revitalisasi disiplin di Seminari San Dominggo Hokeng merupakan strategi penting untuk membentuk habitus pemuridan yang unggul dan kontekstual, melalui aturan keasramaan yang membiasakan rutinitas edukatif.
Disiplin bukan sekadar tindakan, melainkan karakter yang teruji oleh kesulitan dan dibentuk dalam proses panjang yang konsisten. Dengan pembiasaan ini, murid-calon imam diharapkan mampu mencapai kompetensi spiritual dan emosional yang menjadi ciri khas pemuridan Yesus.
Yoseph Yapi Taum memberikan catatan bahwa erupsi dahsyat Gunung Lewotobi pada November 2024 menyadarkan publik akan rapuhnya keamanan kawasan Hokeng sebagai lokasi pendidikan jangka panjang.
Karena itu, melalui kajian ilmiah atas risiko vulkanik, relokasi permanen Seminari Hokeng ke wilayah yang lebih aman dipandang sebagai langkah bijak untuk menjamin keselamatan dan kelangsungan pembinaan generasi muda.
Di balik keputusan tersebut, tersimpan harapan akan pendampingan dan penguatan komunitas lokal menuju masa depan yang lebih terlindungi dan bermakna.










