Di akhir bagian pertama ini, Sr. Praksedes, SSpS membagikan refleksi pengabdiannya yang penuh warna, menyoroti pembentukan karakter dan penemuan panggilan sejati di tengah dinamika seminari.
Bagian ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan sebuah jalan untuk menyalakan semangat bahwa SESADO adalah tempat pembentukan pribadi yang melayani dengan iman dan membangun dengan cinta bagi masa depan Gereja dan bangsa.
Dalam bagian kedua buku ini, kita diajak menyelami catatan reflektif dari para alumni yang pernah merasakan kehangatan dan keindahan perjalanan mereka di SESADO.
Kini, dari kejauhan waktu, mereka memandang kembali pengalaman itu sebagai sebuah oase, tempat perhentian yang menyejukkan jiwa, menghidupkan semangat, dan meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.
Bagi Albertus Muda, Seminari San Dominggo Hokeng adalah taman idaman tempat benih panggilan tumbuh dalam kesuburan iman, ilmu, dan karakter.
Di sana, ia mengalami pembentukan utuh sebagai pribadi yang tangguh dan berintegritas, melalui disiplin studi, kehidupan rohani, dan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, serta solidaritas.
Tulisan Yulius Maran menyuguhkan refleksi mendalam tentang bagaimana ketekunan dalam keheningan dan kesetiaan pada proses di Seminari Hokeng membentuk jiwa yang tangguh.
Ia menunjukkan bahwa pendidikan sejati tumbuh dari hal-hal kecil yang dijalani dengan hati.
Hilarius Ola Muda menulis bahwa Seminari San Dominggo adalah kandil mungil yang bersinar, menjadi rahim kasih bagi lahirnya pribadi tangguh dalam imamat, literasi, dan solidaritas. SESADO menjadi ladang tumbuhnya sastra dan pemikiran, serta ruang belajar dan berbagi yang membentuk pemimpin masa depan melalui keberanian untuk bertumbuh bersama.
Dalam permenungannya, John Fisher Yosep Wure Wujon menggambarkan SESADO sebagai komunitas pembelajaran yang tidak hanya membentuk pengetahuan akademis, tetapi membina kehidupan dan karakter melalui nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan adaptasi.
Meski dihadapkan pada pandemi, bencana alam, hingga perubahan kurikulum dan sistem pembinaan, SESADO tetap setia pada visinya sebagai tempat persemaian panggilan imamat, terus menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya.
Tulisan Yurgo Purap merefleksikan dampak erupsi Lewotobi yang memaksa komunitas SESADO mengungsi ke Saron Larantuka, sambil menggali makna teologis di balik penderitaan.










