LARANTUKA, FLORESPOS.net-Gemuruh ombak disertai sepoi angin yang teduh di pesisir Pantai Asam Satu Beach, Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (10/5/2026) sore hingga malam menjadi saksi komitmen teguh ratusan orang tua, pemuda, remaja dan anak-anak.
Semua mereka berkumpul dan berkomitmen dalam satu momen luar biasa, Rinca Ranca: Festival Budaya Anak Flores Timur. Festival ini digelar oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) Solita didukung Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana dan LPDP.
“Festival Budaya Anak Flores Timur ini terdiri dari kegiatan Workshop Budaya yakni Workshop Permainan Tradisional, Workshop Tradisi Lisan dan Workshop Tarian Tradisional. Dan hari ini adalah puncak dari kegiatan Festival Budaya ini,” kata Yohana Uran dalam sambutan.
Festival tersebut berlangsung meriah. Para pelajar dan anak-anak tampil berkreasi dipanggung puncak festival. Mulai dari puisi, tarian, lagu-lagu hingga permainan tradisional.
Mereka semua yang tampil pesona itu berasal dari SD Waibalun, SDK Larantuka 2 dan 3, SD Labao Tengah, SD Supersemar, SD Weri, SD Carmen Sales, SD Lamenais, TK Sarabina, TK Weri, TK Laconsolation Shool dan anak-anak kompleks TBM Solita sekitaran Kota Larantuka.
“Ini menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda kita,” kata Olin sapaan akrab Yohana Uran.
Olin Uran bilang, festival ini tidak hanya sekadar sebuah acara hiburan, namun menjadi ruang belajar. “Anak-anak Flores Timur harus mengenal budaya sendiri, mencintai bahasa, cerita rakyat, pakaian tradisional, tarian, musik tradisonal, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.”

Momen puncak Rinca Ranca: Festival Budaya Anak Flores Timur itu menjadi semakin berwibawa. Selain pemuda, anak-anak dan para orang tua juga dihadiri sejumlah pejabat daerah.
Sebut saja, Bunda Literasi Flores Timur dan Ketua Pokja Bunda Literasi Flores Timur, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga, Kepala Dinas Pariwisata, Sekretaris Bapperida, dan Budayawan. Mereka didaulat memberikan kesan, pesan dan catatan penting baik soal literasi budaya maupun lainnya.
Kehadiran para pejabat dan budayawan Flores Timur hendak menegaskan, bahwa ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang pewarisan nilai-nilai budaya mesti hidup dan terus hidup dalam kehidupan generasi muda kini dan akan datang.
TBM Solita percaya, tandas Olin Uran, bahwa literasi dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan, memahami identitas, dan menjaga warisan budaya agar tidak hilang.
Olin Uran mengatakan, melalui Festival Budaya Anak Flores Timur, “kita berharap anak-anak makin percaya diri menempatkan bakat dan kecintaannya terhadap budaya sendiri. Larantuka dan Lamaholot.”
“Kita juga berharap orang tua, sekolah, komunitas, dan pemerintah terus bergandengan tangan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi cerdas, berkarakter, dan berbudaya,” kata Olin Uran.
Dari Kelompok Bermain Anak Hingga Jadi TBM
TBM Solita mulanya adalah kelompok bermain. Kelompok kecil anak-anak tetangga rumah di Kota Sau–sebutan nama tempat waktu itu sekarang Kelurahan Sarotari Timur.
Sekitar tahun 2007, oleh Olin. Uran, anak-anak ini dikumpulkan dan diajak bermain dan berdoa sebagai anak Sekami dari Komunitas Umat Basis (KBG) Ave Bintang Laut Lingkungan St. Laurensius Paroki Weri. Sekaligus terhimpun dalam kelompok KFC (Kids For Christ) dari Komunitas CFC (Couples For Christ) atau Pasukris Keuskupan Larantuka.
Pada tahun 2022, kelompok bermain mendeklarasinya diri dengan nama baru, Taman Baca Masyarakat (TBM) Solita.
Pasca kehadiran Duta Baca Indonesia pada tahun 2022, TMB Solita mendapat bantuan buku bacaan dari Perpustakaan Nasional. TBM Solita terus melakukan kegiatan literasi dan berkolaborasi dengan pegiat Literasi yang terhimpun dalam Forum Taman Baca Masyarakat.

TBM Solita terus bertumbuh dan bergerak. Beberapa kegiatan terus dilakukan dan bekerjasama dengan taman baca lain. Setiap Kamis disebut Kamis Solita, TBM Solita menggelar bermain dan belajar di rumah ketua.
“Kami terus bergerak, melakukan apa yang bisa kami lakukan, seperti kegiatan membaca dan menulis, pertanian cilik, belajar mengenal alat-alat tradisional, musik tradisional, menenun, mengenal adat dan tradisi lokal,” kata Olin Uran.
“Napak tilas budaya, belajar Bahasa Inggris, pengembangan bakat minat dan keterampilan, untuk membangun kepercayaan diri pada anak-anak dengan harapan mereka bahagia, suka cita dan semakin berakar pada budayanya. Kemana pun mereka pergi nanti mereka tetap ingat nagi tanah, walau, gayo bero dorang tetap mau bale nagi,” kata Olin Uran lagi.
Harapan kecil ini tentu menjadi pondasi yang kuat kalau didukung lagi dengan rumah atau tempat khusus untuk ruang baca dan penyimpanan buku-buku koleksi Perpustakaan Solita. Menjadi arsip yang terjaga dan terus berkembang.
Ciptakan Ekosistem Seni dan Iklim Wisata di Flores Timur
Kegiatan yang digelar tersebut mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak. Salah satunya dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Heronimus Lamawuran, salah satu pejabat yang didaulat memberi sambutan bilang menarik, festival anak ini diselenggarakan oleh kelompok Taman Baca.
“Komunitas seperti inilah yang kita harapkan terus tumbuh dalam membantu pemerintah menciptakan ekosistem seni dan iklim wisata yang baik di Flores Timur,” katanya.
Menurut mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Flores Timur ini, festival anak yang menyasar obyek pemajuan kebudayaan seperti seni, tradisi lisan (pantun), permainan rakyat sangat berarti bagi regenerasi kebudayaan sejak usia dini.
Bagi Heri Lamawuran, kegiatan anak-anak yang terjadi di ruang publik dalam hal ini di destinasi wisata Asam Satu Beach mempunyai arti penting dalam mewujudkan destinasi bukan hanya sebagai tempat rekreasi dan hiburan melainkan juga sebagai kantong kreativitas.
“Saya dan tentu semua berharap event ini menjadi rutin dan TBM Solita konsen pada pelatihan dan pembentukan karakter anak-anak melalui program-program dan kegiatan-kegiatan yang terus berkelanjutan,” katanya.
Heri Lamawuran juga mengajak seluruh pelaku dan komunitas kreatif untuk terus membangun berkolaborasi memanfaatkan tempat-tempat atau saran dan prasarana wisata Flores Timur menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan atau even-even.
Heri Lamawuran menyebut ada 4 lokasi wisata yang selama ini dikelola oleh Pemda dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, yakni Asam Satu, Wisata Pemandian Air Panas Waiplatin, Pantai Deri dan Pantai Riangsunge.
“Apa yang dilakukan TBM Solita ini semoga menginspirasi dan memantik kita semua, terutama komunitas-komunitas untuk terus bergiat, bekerjasama, gotong-royong dalam menghidupkan wajah kota dan membuat iklim berwisata kian hidup dan berdenyut,” tutupnya.
Rinca Ranca: Festival Budaya Anak Flores Timur yang mengusung tema “Anak Hebat Cinta Budaya Sendiri” dibuka oleh Bunda Literasi Ny. Heide Dolorita Dihen. Setelah pementasan langsung ditutup oleh Ketua Pokja Bunda Literasi, Ny. Yustina Herlinsiana Uran. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










